71 Tahun Emha Ainun Nadjib: Puisi Kehidupan, Prosa...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.55
Oleh: Wahjudi Djaja
Digembleng jalanan Malioboro oleh Umbu Landu Paranggi, menjadikan Cak Nun memiliki naluri yang tajam dalam mentransformasikan realita menjadi karya. Siang, terutama malam, dia menjadi saksi bagaimana Yogyakarta berdetak sebagai salah satu oase penting kebudayaan di Indonesia terutama era 1970/1980. Masa di mana tumbuh subur para penyair, sastrawan, penulis, teaterawan yang tiada henti bergerak dan mengekspresikan diri.
Jalan Malioboro seolah panggung raksasa sekaligus demarkasi penting yang menjadi penghubung poros Bulaksumur di utara dan poros Gampingan di selatan. Ada tiga titik kisar penting dalam tumbuh kembang kebudayaan Yogyakarta saat itu: Purna Budaya di UGM, Seni Sono (kini menjadi satu dengan kompleks Istana Gedung Agung) dan Jalan Malioboro 175 A di mana Persada Studi Klub (PSK) hadir bersama harian Pelopor. Ketiganya menjadi kawah candradimuka bagi banyak manusia kreatif. Manusia yang teguh dalam menapaki laku, berproses bersenyawa dengan alam dan kehidupan, tanpa harus disibukkan dengan pentas dan popularisme.

Menulis baginya seperti naluri. Datang dan berantai saat dibutuhkan tanpa harus–sebagaimana kita–membuka buku dan membaca beragam referensi. Menulis baginya seperti indera keenam yang sama-sama optimal dalam membantunya mendeteksi peristiwa dan menyajikannya menjadi untaian makna dalam tulisan. Matanya jeli dalam menatap fenomena dan menemukan sesuatu yang jarang orang mampu membahasakannya. Belajar pada kehidupan menjadi kuncinya sehingga banyak peran didapatkan yang–hingga kini–sulit untuk digantikan. Pengembaraan jiwa raganya ternyata membuka beragam pengayaan yang banyak menopang hidupnya.
Persentuhannya dengan Umbu Landu Paranggi–sosok bangsawan Sumba yang rela menanggalkan kebesarannya–sedikit banyak mengasah kepekaan batinnya akan keindahan susastranya. Cak Nun semula dikenal sebagai seorang penyair. Ada sebuah puisi yang dia tulis tahun 1973 berjudul “Akan Kemanakah Angin”.

Baginya, penyair tak bisa bebas atau dilepaskan dari soal politik. Selain merekam detak kehidupan yang kaya permasalahan, seorang penyair adalah saksi autentik atas esensi hidup yang diharapkan mampu memformulasikan permasalahan agar dibaca dan dipahami rakyat. Pada koran Bernas (28/6/1991) dia ungkapkan:
Salah satu kepedulian Cak Nun dalam membangun peradaban bangsa adalah meletakkan desa sebagai locus gerakan. Dia memang bisa dan biasa tampil di berbagai forum nasional maupun internasional, tetapi semakin ke sini dia akrabi masyarakat pedesaan. Jamaahnya yang tergabung dalam Maiyah mayoritas berasal dari kalangan bawah. Ini bukan tanpa alasan. Baginya mengakrabi dan membangun kesadaran masyarakat yang sering terpinggirkan oleh derap pembangunan adalah kebahagiaan tersendiri.
Bersama musik Kiai Kanjeng, Cak Nun tidak saja menghibur tetapi juga menyerap permasalahan lalu dilemparkan kembali dalam beragam bentuk solusi. Atraktif, komunikatif dan menjadi bekal jamaahnya dalam menapaki kehidupan. Cak Nun menampilkan diri sebagai katalisator atas keluh kesah masyarakat. Pada pementasan terakhir sebelum jatuh sakit, Cak Nun memberi apresiasi mendalam atas kerja peradaban yang dilakukan Lurah Panggungharjo Sewon Bantul, Wahyudi Anggoro Hadi, yang memberinya kado 10 buku tentang peradaban desa.
Terlalu luas membaca Cak Nun. Tak mampu rasanya mengemas menjadi sebuah tulisan. Apa yang saya tulis bisa jadi hanya pandangan jauh dari pegiat desa yang merasa memperoleh pelajaran dari seorang Cak Nun. Selamat ulang tahun Cak, semoga dikaruniai keberkahan, kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin
Ksatrian Sendaren, 27 Mei 2024