Ahmad Syafi’i Ma’arif: Mendidik Bangsa Sampai Akhir Usia...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.55
Oleh: Wahjudi Djaja
Luas cakrawala dan pergaulan, teguh pendirian, dan tiada henti menyodorkan pemikiran kritis, nampaknya tak bisa lepas dari sosok Ahmad Syafi’i Ma’arif (31 Mei 1935 – 27 Mei 2022). Abdurrahman Wahid (Gur Dur) pernah menjulukinya Pendekar Chicago–bersama Nurcholish Madjid dan Amien Rais–merujuk pada daya dobrak ketiganya pada perjuangan dan dakwah Islam.
Jumat (27 Mei 2022) tokoh besar–dalam pemikiran dan pergerakan namun tetap berpola hidup bersahaja ini–telah dipanggil kembali oleh-Nya. Ada tiga momen penting perjumpaan saya dengan beliau yang sangat membekas.
, pada pertengan Juli 1998 di Gedung Dakwah “Shierad” Klaten. Saat itu Buya harus menggantikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais yang “dihibahkan” Muhammadiyah untuk berkiprah lebih luas bagi bangsa dan negara dengan mendirikan partai politik. Sidang Tanwir di Semarang pada 5-7 Juli 1998 merelakan Amien untuk melepas jabatan Ketua PP Muhammadiyah. Selain berkisah tentang hiruk pikuk gerakan Reformasi, ada kata Buya yang saya ingat saat itu, “Dari yang paling hijau sampai yang paling merah ada di Klaten”. Hijau merujuk pada Islam, merah pada nasionalis. Sepengetahuan saya, itu pertama kali Buya menyebut Amien sebagai, “Orang yang urat takutnya telah putus”.
, pada tahun 2010. Saya membantu Muhammad Nursam, sejarawan muda UGM di Penerbit Ombak. Lokasi kantor di Nogotirto, Gamping, Sleman, dekat dengan rumah Buya. Hampir tiap pagi beliau jalan kaki di sekitar Nogotirto, lalu singgah di Ombak untuk sekedar membaca koran atau berdiskusi bertiga. Jika banyak yang bersaksi tentang kesederhanaan sikap hidup beliau, saya termasuk yang sering melihatnya. Kepedulian, kalau tak bisa disebut keberpihakan, pada kelompok minoritas sudah jelas terlihat saat itu. Saat peresmian rumah baru Nursam di belakang Ombak, banyak warga perumahan Nogotirto yang hadir. Beliau diminta memberikan pengajian, namun secara halus ditolaknya. Kesempatan diberikan kepada salah satu ustad yang lebih muda dan hadir dalam acara itu. Sebuah kesederhanaan dan laku hidup yang sangat menyentuh. Kini, kedua sejarawan itu insyaAllah telah damai bahagia di keabadian, aamiin.
Upaya untuk membuka tirai itu coba saya angkat lagi dengan menemui Prof. Sjafri Sairin saat Buya wafat. Saya wawancarai beliau di Masjid Gede Kauman, di samping jenazah Buya:
Sementara biarlah kusimpan dalam memori dan dokumen. Kelak, insyaAllah bisa saya tulis sebagai penghormatan untuk beliau-beliau yang sangat saya hormati.
Yang penting dicatat adalah keseriusan Buya Syafi’i dalam memikirkan nasib bangsa, yang kadang, berseberangan dengan berbagai pihak termasuk Muhammadiyah. Salah satu keseriusan beliau bisa dilacak dari beragam tulisan, termasuk kolom
Kegelisahan Buya pada defisit negarawan dan surplus penguasa yang kian serakah dan mengabaikan etika dan kepatutan ditulis di Republika (23/2/2013):
Mendasarkan sikap dan pendirian, lalu merangkainya dalam kalimat yang kuat, fokus pada jantung permasalahan. Demikianlah beragam tulisan dan ceramah Buya kita baca dan simak. Formula yang ditawarkan Buya agar bangsa ini–sesuai frasa yang sering beliau sampaikan–siuman dari tidur panjangnya, ditulis dalam
Sampai akhir hayat Buya masih tetap memikirkan dan mendidik bangsanya. Bukan hanya dengan ucapan dan tulisan, tetapi–ini yang khas dari karakter beliau–berlaku hidup sederhana tanpa canggung atau kesan dibuat-buat.
Pesan menyentuh pernah beliau sampaikan melalui tulisan tentang pentingnya memberikan landasan moral yang benar dan kuat sejak dalam pernikahan. Pada
Saat hidup penuh ketakpastian, saat etika moralitas diterjang ambisi kehidupan, saat keluarga-keluarga hancur berantakan, tidak tersentuhkah kita dengan tulisan Buya? Keluarga adalah pilar negara, bijak jika kita membentenginya (kembali) dengan kesadaran dan laku utama. Semoga pesan-pesan peradaban dan pendidikan Buya senantiasa bisa kita camkan dan kerjakan serta menjadi ladang pahala tak berkesudahan bagi beliau.
Ksatrian Sendaren, 27 Mei 2024