Catatan Pembelajaran Bersama Komunitas Kandang Kebo...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.55
Oleh: Wahjudi Djaja
Program dan kegiatan Komunitas Kandang Kebo makin hari makin diminati. Sebuah komunitas yang benar-benar dibangun di atas fondasi relawan, patembayan, serkileran, dan karenanya organis. Kondisi ini menarik untuk diamati setidaknya dalam tiga catatan.
Setiap tiga bulan sekali mereka menggelar sarasehan di
Narasumber yang dihadirkan benar-benar
Setahap lebih serius, selepas sarasehan mereka mengajak peserta sarasehan untuk
Sepengetahuan saya, Komunitas Kandang Kebo memiliki struktur organisasi yang tidak saja legal tetapi juga operasional. Perbedaan mereka dibanding komunitas yang lain adalah programnya justru berbasis gerakan. Tanpa kenal lelah, satu sama lain sesama pengurus dan anggota memiliki kepedulian yang tinggi dan kesadaran yang hidup terkait jejak peninggalan sejarah arkeologis. Kadang mereka mendatangi suatu objek berdasar informasi, sering mereka sendiri yang bergerilya. Langkah yang kemudian diambil cukup mencengangkan, mereka membersihkan lingkungan, mendata objek yang ditemukan, melacak sumber terkait dan melaporkan kepada pihak yang berwenang terutama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Yogyakarta. Bagi mereka, filosofi yang mendasari berdirinya komunitas–Menapak Jejak Sang Leluhur Nusantara–bukan hanya sekedar
Satu sama lain sesama pengurus membangun kohesi sosial yang padu padan. Saling mengisi dan membantu, tanpa harus mengedepankan model perintah dalam pengertian garis komando. Mulai survei lokasi
Pengurus Komunitas Kandang Kebo ini banyak berasal dari beragam latar belakang. Mereka memiliki hobi–dan karenanya kepedulian yang tinggi–tentang jejak leluhur, siapapun mereka dan dimanapun mereka berada. Keinginan untuk bisa mengetahui, mengerti dan memahami setiap jejak, situs atau peninggalan, ditambah perpustakaan yang disediakan di
Tak sedikit dari mereka yang tak mengenyam pendidikan formal kepurbakalaan, tetapi peran dan keberadaan mereka sangat membantu institusi terkait. Entah praktisi nisan, makam, percandian, prasasti dan beragam jenis jejak peninggalan arkeologis. Bisa jadi masing-masing dari mereka belajar secara mandiri, tetapi dengan bergabung dalam Komunitas Kandang Kebo, daya jelajahnya semakin bertenaga, dihargai dan–karenanya–dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.
Dalam ketiga catatan, apresiasi tulus jujur harus kita berikan kepada Komunitas Kandang Kebo. Jauh dari kesan egoisme kelompok, mata proyekan, atau partisan, mereka hadir memberi manfaat bagi ilmu, budaya dan masyarakat. Selamat atas tugas peradaban yang diemban dan diaktualisasikan dengan penuh kesungguhan. Semoga berkah sepanjang langkah. Aamiin
Ksatrian Sendaren, 3 Juni 2024