Coruptio Optimi Pessima...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.39

Oleh: Wahjudi Djaja

Banyak kenangan yang saya alami bersama mendiang GM Sudarta. Dalam membahasakan realita menjadi karya seni, tak banyak yang bisa menyamai sosok kelahiran Klaten ini. Tajam, kena, menggelitik. Melalui Oom Pasikom, Kangmas GM–demikian saya sapa beliau–hadir rutin di Harian

Suatu kali pernah diajak Kangmas GM ke Jakarta naik mobil dari Klaten untuk menghadiri pameran lukis di Bentara Budaya dan mengikuti pameran keramik karya Prof Chitaru Kawasaki ”

Sebuah kursi kebesaran dengan hamparan karpet merah tetapi dipenuhi oleh tikus. Karpet itu digelar memanjang sejak pintu masuk galeri sampai ujung ruangan dimana posisi karya seni instalasi Kangmas GM tepat berada di tengah. Segera setelah melihat tata ruang pameran, kita seperti sedang marak sowan ngabyantara, audiensi ke penguasa. Ada aroma kewibawaan tetapi sekejap berubah menjadi jijik melihat puluhan tikus yang memenuhi kursi dan karpet merah. Kangmas GM memberi nama karyanya itu “

Sebuah karya yang–dalam tafsir sederhana saya–sangat kena, lintas zaman dan selalu aktual. Korupsi–berakar kata Latin

Hancurnya VOC pada 1799 konon karena praktik korupsi para pejabatnya yang kongkalingkong dengan para bangawan dan penguasa lokal. Kerajaan-kerajaan di Nusantara pun tak luput dari tradisi–maaf menggunakan kata ini–upeti, pasok sampai beragam jenis pungutan. Pesan Bung Hatta–sosok berintegritas yang kebal dari beragam korupsi–sangat jelas, “Jangan biarkan korupsi menjadi bagian dari budaya Indonesia” pada 1961 silam, nampaknya sulit untuk dielakkan. Potensi raksasa yang dimiliki bangsa ini tidak saja gagal menyejahterakan rakyatnya, tetapi justru menjadi sumber malapetaka akibat praktik korupsi.

Dalam buku

Adalah ironis jika pasca reformasi, pemerintahan yang dibentuk–dengan pengorbanan rakyat banyak–itu semakin hari cenderung mengulangi kesalahan yang sama. Korupsi bergerak ke bawah seiring dengan otonomi. Ini yang cukup mencengangkan! Berdasar laman ICW, periode 2004 sampai Januari 2022 ada 22 gubernur dan 148 bupati/wali kota yang ditindak KPK. Data Kejaksaan dan Kepolisian mencatat antara 2010 – 2018 tak kurang dari 253 kepala daerah menjadi tersangka korupsi. Data Transparency International Indonesia menyebut

Dalam masyarakat paternalistik, bisa dipahami jika praktik korupsi bersumber dari jantung kekuasaan. Jika pusat kekuasaan menerapkan budaya transparan, kinerja yang terukur dan memiliki akuntabilitas yang tinggi, ke bawah akan menjadi model pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Namun jika sebaliknya, maka kehancuran bangsa sebenarnya tinggal menunggu waktu. VOC sudah membuktikan, era Soeharto pun demikian. Aneh bin ajaib jika praktik kotor itu makin terang benderang dilakukan.

Yang menyesakkan dada adalah pelaku korupsi sering justru dianak emaskan oleh penguasa. Jika berasal dari kelompok atau partai penguasa, jangan harap mereka bisa ditangkap dan dipenjara. Kalaupun tertangkap KPK–lembaga yang kian hari kehilangan marwahnya karena politicking ini–para koruptor pun masih bisa tertawa bebas lepas. Memakai baju orange nampaknya bukan berarti apa-apa. Etika dan moralitas hanyalah soal wacana bagi mereka yang belum berkuasa. Bisa jadi demikian bawah sadar mereka berkata.

Maka menarik dan tepat sekali seni instalasi karya Kangmas GM di atas. Orang sering mengutip ungkapan, ikan busuk dari kepala atau

Di tengah badai korupsi yang menggurita itu kita mempersiapkan Pemilu 2024 dan memilih calon pemimpin bangsa. Sedari awal korupsi coba dimainkan untuk menghadang laju calon, baik versi pemerintah maupun LSM dan rakyat. Sesekali di media sosial kita disibukkan dengan beragam berita lama sekedar mengingatkan potensi korupsi yang mungkin pernah dilakukan oleh salah satu pasangan. Yakin Pemilu 2024 akan berlangsung Luber dan Jurdil? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Selamat Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember 2023. Kejujuran adalah modal utama terbentuknya integritas individu, kolektif dan kelembagaan. Menghadapi korupsi, dengan demikian, tak bisa hanya sporadis dan sektoral tetapi total dan menyeluruh tanpa pandang bulu. Nampaknya kita hanya bisa menunggu datangnya Ratu Adil.

Ksatrian Sendaren, 9 Desember 2023