Fachry Ali: Antara Ironi dan Tragedi...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.39

Oleh: Wahjudi Djaja

Untuk bisa memahami seseorang, cara yang paling baik dan bijak–apa boleh buat–adalah dengan membaca rekam jejaknya. Sebuah catatan kesejarahan yang pernah dilalui dan menjadi dokumen faktual yang bisa dijadikan pustaka bagi siapa saja yang mau membacanya. Dan di era digital, sebetulnya tidak terlalu sulit menemukan data dan fakta sosial seseorang. Sayangnya, literasi digital kita memang kurang mendalam sehingga simpulan atau kesan yang diperoleh menjadi kurang sempurna. Dalam beberapa hal, jujur saya juga belum banyak tahu sosok yang akan saya tulis berikut. Sebagai sebentuk ungkapan kebahagiaan, bolehlah itu dikerjakan.

Fachry Ali, sosok intelektual muslim dengan beragam peran ini, dalam banyak sisi telah mengingatkan kembali pada kita tentang apa dan siapa yang disebut intelektual. Lebih dari seorang yang akademisi atau ilmuwan, Bang Fachry demikian saya menyapanya, merujuk pada sosok yang–menurut KBBI–cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; mempunyai kecerdasan yang tinggi; cendekiawan; totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Untuk membacanya, saya perlu menempatkannya pada dua konteks sosial politis berikut dimana sosok kelahiran Aceh ini menghikmati perannya.

Ironi Peran Intelektual

Kampus-kampus seperti tertidur pulas dengan impian menjadi universitas kelas dunia. Banyak alumni luar negeri tetapi gagal dalam melakukan–meminjam istilah Alfian–perantauan intelektual. Beragam teori sosial dipelajari tetapi tak nampak dari mereka yang mampu–dalam istilah Umar Kayam–melakukan transformasi sosial. Sementara itu realitanya rakyat kebanyakan seperti dijauhkan dari advokasi atas realita kehidupan yang mereka hadapi. Day to day mereka berjibaku dengan duka derita kemiskinan dan pengangguran, tetapi itu nyaris tak nampak di permukaan sehingga meluncurlah simpulan sederhana: keadaan baik-baik saja. Data, survei, media bisalah dikendalikan.

Tiba-tiba kita tersentak kaget ketika panggung politik nasional berlinang air mata. Kok bisa? Tentu, pertanyaan ini mempunyai dua sisi. Kok bisa mereka, yang selama ini berdiri di belakang kekuasaan, menangis tersedu-sedu di depan publik? Apakah mereka salah pilih atau salah langkah? Lalu, kok bisa–ini sisi kedua–mereka baru menyadarinya sekarang? Bukankah banyak ekonom, pakar politik, dan berbagai lembaga kajian telah memberikan rekomendasi?

Tapi tak ada yang aneh dalam politik, meski kadang sedih juga melihat etika dan moralitas ditanggalkan begitu saja. Maka, seperti sebuah tanggul yang jebol, arus air kemarahan pun meledak menghantam apa saja yang ada, dilihat dan terjadi. Antarelite bongkar-bongkaran rahasia dan bergerak ke bawah sehingga meluas. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan katanya biasa, kita tertawa dalam seribu makna.

Tragedi Kekuasaan

Tetapi harus diakui–setidaknya dalam pandangan saya–baru pada Kofi Edisi Tragedi Politik SBY, Bang Fachry begitu bernyali, tajam menukik dan tepat dalam mengartikulasikan kegelisahan intelektual, sekaligus membedah karakter tokoh dengan begitu apik. Benar-benar sebuah tragedi! Bagaimana mungkin tokoh sentral Partai Demokrat ini terkesan terburu-buru mengambil keputusan keluar dari Koalisi Perubahan, tetapi–di pihak lain di Koalisi Indonesia Maju–perannya menjadi tak signifikan. Keinginan turun gunung pelan-pelan kehilangan konteks. Tak pernah diduga “dredah” ini akan terjadi jika MK tidak mengeluarkan keputusan kontroversial.

Bola masih akan terus bergulir dan tak seorang pun tahu kemana arah dan dimana berhentinya. Sambil menunggu analisis Bang Fachry berikutnya, sebagai seorang yunior saya sudah merasa senang dan bahagia manakala ada komentar beliau pada status saya. “Kita sedih ya?”, “Tajam”, atau sekedar “Good” dan “Very Good”. Atau beliau minta konfirmasi atas sebuah status agar saya bisa menjelaskan konteksnya. Saat menulis status sengaja diniatkan sebagai kanalisasi rasa dan aspirasi, lalu beliau memberikan apresiasi, lebih dari cukup bagi saya.

Yang perlu disampaikan adalah jika berkunjung ke Yogyakarta, beliau tidak saja selalu berkabar tetapi mengajak “ngopi” dan berdiskusi. Beragam tema bisa didiskusikan hingga larut. Sudah senior tetapi tetap merendah dan mau “ngrengkuh” yang muda adalah karakter yang sangat melekat padanya. Semua terjadi tanpa jarak, egaliter dan beliau terlihat menjaga kohesi sosial betul. Sungguh sebuah keberuntungan bagi saya pribadi.

Tetap berdiri dengan prinsip dan akar intelektual, lalu menjaganya dalam bahasa yang rasional dan mudah dimengerti, menjadi karakter yang banyak disukai generasi di bawahnya. Bukankah semakin langka intelektual yang mau dan mampu menempatkan diri sebagai jembatan peradaban antargenerasi? Dalam konteks itulah, saya merasa bersyukur bisa kenal dekat dan–karenanya bisa–berguru pada beliau.

Selamat ulang tahun Bang Fachry Ali. Semoga dikaruniai panjang usia, penuh berkah dan peran-peran bermakna. AMIN

Ksatrian Sendaren, 23112023