Guru...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.55
Oleh: Rendra Agusta
Setia kepada Guru, guru yang mana?
Sebulan terakhir saya mendapat pertanyaan “Dalam kebudayaan Jawa, Guru yang terstandarkan, profesional, itu yang bagaimana?” Saya tak segera bisa menjawabnya.
Sembari mengerjakan hal lain, kebetulan saya mengikuti sebuah zoom epigrafi tentang pengajaran masa Jawa Kuna di Jawa Timur, lalu saya teringat akan prasyarat ini.
Belasan tahun lalu, saya dikenalkan dengan satu bait Dhandhanggula, dalam Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwana IV, soal “siapa yang boleh dijadikan guru?” dalam konteks masyarakat Jawa Baru, di lingkungan Kraton Surakarta. Tentu, kemudian hari juga berkenalan dengan prasyarat menjadi guru dalam Tradisi Jawa Kuna. Kedua teks tersebut memberi saya satu standar dalam memilih guru, dan atau menyebut seseorang dengan label “guru”.
Bagi saya, sebelum meletakkan kesetiaan dan kepatuhan kepada seorang guru, langkah awalnya adalah melihat sikapnya sebagai manusia. Sebelum ndakik-ndakik melihat
Belakangan ini saya mendengar banyak pelanggaran etik akademik dan etika sosial yang dilakukan oleh seseorang berlabel guru dan calon guru. Sikap saya akan sama, ketika Anda melanggar prasyarat dalam masyarakat Jawa itu, jelas Anda bukan guru bagi saya. Terlebih, ketika para guru sudah keterlaluan melanggar, mulai merugikan orang lain, segera tinggalkan.
Walaupun demikian, Jawa mengajarkan saya untuk ber-
.
Filolog, Peneliti Naskah Kuna Komunitas Sraddha Surakarta