Hardi, Kepergian Seorang Pelukis Revolusioner...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.34
Oleh: Wahjudi Djaja
“Asyik, gerakan Anda sangat autentik”. Ini kalimat yang beliau sampaikan sebagai apresiasi atas laku langkahku dalam memberdayakan beragam potensi desa yang bertahun kujalani. Sebuah kalimat sederhana yang sangat membekas karena turut menjadi bara yang membakar perjuangan. Di satu sisi tak mudah menyadarkan dan menggerakkan masyarakat agar sadar potensi, di sisi lain raksasa wisata kian merangsek dan menjajah berbagai sudut desa.
Sosok yang dikenal keras tapi humanis, memegang teguh idealisme tetapi kadang harus menyesuaikan dengan dinamika pasar dimana karya seni lukis beliau harus diketahui publik dan terjual. Era 1990-an sering membaca opini beliau di berbagai koran–yang klipingnya masih kusimpan–tentang seni rupa sebagai sebuah gerakan, baru era 2000-an bisa bertatap muka langsung dan berdiskusi. Sosok yang hangat dan tak sungkan memberikan suport dan apresiasi untuk kaum muda.
Lahir di Blitar dengan nama R. Soehardi pada 26 Mei 1951, Hardi–demikian alumni ASRI Yogyakarta ini akrab disapa–dikenal pelukis ekspresionis. Pernah membuat penguasa Orde Baru merasa terganggu sehingga menangkap dan memenjarakannya pada 1978. Bayangkan, saat penguasa yang sedang kuat-kuatnya harus melihat sebuah lukisan dirinya mengenakan pakaian kebesaran militer lengkap dengan bintang dan tanda jasa. Lukisan bertajuk Presiden RI Tahun 2001 Suhardi itu akhirnya membuat geger.
Antara imaji dan magis bercampur politis menjadi satu dalam lukisan berukiran 60×30 itu. Membayangkan presiden alternatif era itu sebuah tabu, apalagi men-
Pernah, pada 2 Oktober 2012 aku diajak Kangmas GM Sudarta–dedengkot kartun Indonesia–ke Jakarta. Kami berangkat dengan mobil dari Klaten ke Jakarta untuk mengikuti pembukaan Pameran Lukis “Slenco” di Bentara Budaya Jakarta. Beliau terkesima dengan karya Om Hardi yang melukis Jakob Oetama. Sebuah lukisan yang sangat besar untuk menggambarkan seorang tokoh besar. Cukup lama kami mengamati lukisan Hardi itu.
Ketika peristiwa itu kuabadikan lalu ku-
Diskusi dan komunikasi kami agak intens saat kami sama-sama berada di barisan Bang Nasir Tamara yang mengetuai Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Saat HUT I Satupena dilaksanakan Rakernas di Jakarta 13-14 Mei 2018, dilakukan lelang 3 lukisan KP Hardi Danuwijoyo. Om Hardi bangga dan bahagia saat itu sehingga membagikan buku karyanya yang berjudul
Terkait Satupena perlu mendapat catatan tersendiri. Sejarah baru dalam dunia kepenulisan di tanah air saat digelar Kongres Persatuan Penulis Indonesia pada 26-29 April 2017. Dalam pemilihan yang sangat demokratis Dr. Nasir Tamara terpilih jadi Ketum Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) periode 2017-2021. Unggul 67:40 suara dari Imelda Akmal. Kandidat lain Mike Susanto mundur saat penyampaian visi dan misi.
Dalam dinamika Satupena Hardi relatif mewarnai organisasi. Kadang keras berpendapat, lalu saat didebat atau kurang berkenan,
Hardi telah pergi. Kamis pagi 28 Desember 2023, sosok dengan pengaruh yang luas dan beragam itu menghembuskan napas yang terakhir kalinya. Bukan hanya Satupena yang merasa kehilangan, tetapi juga kalangan pelukis, budayawan, dan insan yang menempatkan kemanusiaan sebagai standar peradaban. Hardi adalah manusia pembebas yang bernyali dan bernas. Seorang revolusioner telah pergi, seorang pejuang kemanusiaan telah kembali ke pangkuan Illahi. Semoga damai di keabadian, aamiin
Ksatrian Sendaren, 28 Desember 2023