Jaya Suprana: Semar yang Suka Mendengar...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.57

Oleh Wahjudi Djaja

Sebuah keberuntungan bagi saya–oleh Bang Nasir Tamara–dimasukkan ke WAG Forum Demokrasi & Kemanusiaan. Ada 64 tokoh besar nasional dengan peran monumental terkumpul di sini. Dalam segala hal saya yang termuda. Wacana yang didiskusikan meliputi beragam tema dengan eskalasi yang berbeda-beda. Jaya Suprana–salah satu tokoh yang ada di WAG itu–hari ini berulang tahun. Tulisan singkat ini didedikasikan sebagai ungkapan kebahagiaan.

Selalu merendah, menghormati, dan menjunjung tinggi lawan diskusi adalah salah satu karakternya yang saya tangkap dalam komunikasi dan interaksi. Terkadang tanpa sungkan bertanya untuk melihat sesuatu yang lebih dalam melalui perspektif yang berbeda. Ini sering saya lihat. Bahkan dalam beberapa kali komunikasi melalui jaringan pribadi, karakter itu menjadi kepribadian. Begitu juga saat melayani narasumber tamu melalui kanalnya Jaya Suprana Show.

Tak sulit menemukan peran dan kiprah Jaya Suprana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rekam perjalanannya malah sampai ke manca negara. Tokoh nasional mana yang tak sempat berinteraksi dengan pianis andal keluaran Jerman ini? Usaha apa yang dia dirikan dan tak dikenal luas oleh publik? Lahir dalam tradisi Tionghoa, tumbuh dalam budaya Jawa, berkembang dalam harmoni dunia. Di balik kesederhanaan dan kejenakaannya, Jaya Suprana adalah seorang begawan.

Tak mungkin orang dengan daya jelajah yang mengagumkan dan cakrawala yang luas itu tak memahami semesta permasalahan, misalnya, kebudayaan. Tetapi dengan rendah hati dia

Berbeda dalam peran pewayangan yang suka memberi ular-ular atau wejangan dan nasihat kepada para ksatria, Jaya Suprana justru tampil sebagai pendengar yang baik. Sebuah karakter yang langka bagi orang sekaliber dirinya. Dalam banyak contoh, entah ilmuwan atau budayawan, cenderung lebih suka dilihat sebagai sosok yang serba tahu sehingga–konsekuensi logisnya–obral kata dan sulit menerima masukan. “Saya hanya seorang pembelajar peradaban, Mas Yudi”, katanya suatu ketika.

Maka agak kaget, surprise dan gemetar saya membaca pesan Jaya Suprana pada 25 Agustus 2023.

Ketika saya minta agar dipanggil “mas” saja mengingat usia yang jauh lebih muda, Jaya Suprana menjawab:

Kami pun pada hari yang disepakati berbincang tentang kebudayaan. Melalui media zoom, saya dari Ndalem Natan sesuai permintaannya sedang Jaya Suprana dari Jakarta.

Begitulah. Tak sempurna saya jawab pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan. Sependek pengetahuan saya tentang budaya Jawa–meski menjadi ruh dalam kehidupan dan keseharian–tahulah saya sosok yang berada di dalam layar dan sedang memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan menukik itu. Namun, penerimaan, penghormatan dan apresiasi yang dia berikan dengan tulus rendah hati justru mengkonfirmasi pandangan saya sebelumnya tentang orang besar ini.

Sebuah sertifikat paling berharga diberikan manajemen Jaya Suprana Institute. Difigura dan saya pasang di dinding kamar tamu. Tiap kali melihatnya, saya selalu berbisik. Semar sedang

Selamat ulang tahun Begawan Jaya Suprana. Semoga senantisa berkah, sehat dan bahagia. Aamiin. Sebuah puisi yang saya eja dari namanya sebagai doa dan penghormatan.

Jejak sejarah mengalun indah

Setumpuk peran terpaku di lanskap peradaban

Ksatrian Sendaren, 27 Januari 2024