Kampanye, Sampanye dan Janji yang Terlupa...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.37
Oleh: Wahjudi Djaja
Hari dimana panggung bisa dimana saja dan kapan saja. Asal ada ruang, masuki dan bidik. Asal ada orang, senyum mengembang. Apalagi ada beribu yang pegang kamera, posisi dan citra diri pun diatur sedemikian rupa. Kata diolah jadi isu, isu dipermaks jadi gorengan, gorengan dimakan kapan saja. Benar-benar hiburan yang langka.
Kampanye. Bukan lagi soal visi yang diuji, kemampuan yang diperdebatkan, atau gagasan yang dipertandingkan. Memang ada sih, satu dua acara bertajuk debat atau adu gagasan. Tapi yakin itu bisa mempengaruhi suara hati untuk menentukan pilihan?
Bisa dicek, dari 200-an juta pemilih pada Pemilu 2024 berapa persen yang mau menggunakan media yang dia punyai–segala jenis gawainya–untuk mengulik dan menelisik visi, kinerja, rekam jejak dan kapasitas tiap calon. Tidak saja capres dan cawapres tetapi juga para calon wakil mereka di DPR dan DPRD. Kecil kemungkinan itu dilakukan.
Kita lebih suka mengakrabi tampilan sesaat, bahasa tubuh, pencitraan dan persepsi yang dibangun oleh timnya. Anak-anak milenial–yang akrab disebut Gen Z–pun punya cara untuk menentukan pilihannya. Semua sesuai konteks sosiologis yang melingkupinya. Dan di alam demokrasi itu sah-sah saja.
Kampanye memang beda dari sampanye. Meski perbedaannya hanya satu huruf tetapi keduanya disamakan oleh momentum. Kampanye dilakukan pada momen suksesi atau pergantian kekuasaan, sampanye–anggur putih bergelembung dari Champagne Prancis–dinikmati saat-saat istimewa. Cuma, jujur tidak berharap ada calon pemimpin yang berhura-hura dengan sampanye saat dia memenangkan kontestasi.
Bangsa ini sudah mengalami degradasi yang luar biasa. Zaman sedemikian maju tetapi kita dapat elite yang kerdil, licik dan picik. Janji ditebar dengan menggelegar tetapi diam membisu saat berjuta anak bangsa menggelepar. Janji memang–kadang kala–hanya untaian kata yang dianggap mudah dilupa. Tetapi satu hal dilupakan, ketika janji diucapkan itu semesta menyaksikan, merekam dan menyiapkan mekanisme untuk memberikan balasan. Baik dibalas baik, buruk pun dibalas buruk. Hukum alam–mau tak mau–adalah pilar kelima demokrasi.
Ksatrian Sendaren, 30 November 2023