Kejayaan yang Tak Malu...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.57
Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, kekuasaan itu laksana obat bius yang bisa melupakan kesadaran dan rasa malu seseorang. Rutger Bregman menjelaskan hal ini dengan sangat menarik dalam buku “Humankind: A Hopeful History (2020).
Professor Dacher Keltner, seorang ahli ternama dalam penerapan Machiavellianisme, merasa penasaran untuk menguji kebenaran tesis Machiavelli tersebut. Hasilnya? Tak sesuai harapan.
Berdasarkan hasil studi eksperimennya, Keltner menyimpulkan bahwa individu-individu yang bangkit ke posisi kekuasaan pada umumnya mereka yang paling ramah dan paling berempati. Ini sejalan dengan kaidah emas tentang daya sintas mereka yang paling bersahabat: the survival of the friendliests.
Kendati demikian, setelah mereka berkuasa wataknya cenderung berubah. Orang-orang berkuasa menampilkan kecenderungan yang serupa. Mereka benar-benar bertindak seperti orang yang mengalami kerusakan otak. Mereka bukan saja lebih impulsif, egois, ceroboh, dan sombong dan kasar ketimbang rata-rata, tetapi juga cenderung selingkuh dari pasangannya, kurang memperhatikan orang lain dan kurang tertarik pada sudut pandang orang lain. Mereka juga lebih tidak tahu malu, sering kali gagal
Memang, rasa malu juga mempunyai sisi gelap (misalnya, rasa malu karena kemiskinan). Tapi coba bayangkan akan menjadi masyarakat seperti apa sekiranya rasa malu tidak ada lagi. Itu akan menjadi neraka.
Dalam demokrasi modern, sifat tak tahu malu bisa memberi keuntungan tersendiri. Politisi yang tidak terhalang oleh rasa malu
Di dunia seperti ini, bukanlah pemimpin yang paling ramah dan berempati yang naik ke atas, tetapi kebalikannya. Saat ini, yang berjaya adalah mereka yg tak tahu malu: the survival of the shameless.
Cendekiawan, Pengasuh Edulatif