Kekuatan Mitos...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.57
Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, Carl Gustav Jung dalam Psychology and Religion (1938) mengajukan pertanyaan retoris: ”Mengapa manusia primitif perlu berpanjang kata untuk melukiskan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa dalam alam kehidupan, seperti timbul-tenggelamnya matahari, bulan dan musim?”
Ia percaya bahwa peristiwa alam itu dituangkan ke dalam kisah dan mitos bukan sekadar cara untuk menjelaskannya secara fisik. Akan tetapi, ”dunia luar” itu digunakan untuk memberi pengertian terhadap ”dunia dalam”. Jung menyatakan bahwa kekayaan simbol-simbol dari manusia primitif itu—seni, agama, mitologi—untuk ribuan tahun lamanya membantu manusia memahami misteri kehidupan.
Dengan penjelasan itu, Jung menegaskan bahwa agama bukan hanya merupakan fenomena historis-sosiologis, tetapi juga memiliki signifikansi psikologis. Dalam konteks ini, ia berpandangan bahwa agama sebaiknya dipahami dengan menghubungkannya dengan apa yang disebutnya sebagai ”collective unconsciousness” (ketidaksadaran kolektif), realitas psikis yang dialami bersama oleh semua manusia.
ini diekspresikan melalui ”archetypes”, yakni pola-pola dasar pemikiran universal, atau imaji mental yang memengaruhi perasaan dan tindakan orang. Menghubungkan konsepnya dengan pemikiran Lévy-Bruhl, ia menegaskan bahwa kekuatan
Dalam elaborasinya tentang
Sejalan dengan pemikiran Jung, Mircea Eliade menegaskan bahwa seluruh studi tentang agama pada dasarnya merupakan studi tentang simbolisme. Untuk memahami mitos, shamanisme, atau ritus inisiasi adalah usaha menguraikan ’struktur simbolik’ keagamaan, yang mewujud dalam pola-pola
Keyakinan terhadap Pancasila bisa ditumbuhkan dengan memperluas ruang-ruang perjumpaan, wahana tempat emosi kolektif dikuatkan dengan berbagai upacara, ritual, simbol, nyanyian, permainan, yel-yel, dan kisah-kisah kepahlawanan yang dapat mengobarkan sentimen kolektif, yang disebut Durkheim sebagai
Pengaruh kisah (sastra, sejarah, film) terhadap kehidupan tak bisa diremehkan. Tokoh-tokoh dalam karya fiksi kerap kali memengaruhi hidup, standar moral masyarakat, mengobarkan revolusi, dan bahkan mengubah dunia. Kisah Rosie the Riveter, yang melukiskan sepak terjang seorang pekerja pabrik kerah-biru menjadi pengungkit bagi Women’s Liberation Movement. Kisah Siegfried, ksatria-pahlawan legendaris dari nasionalisme Teutonik, ikut bertanggung jawab mengantarkan Jerman pada dua perang dunia. Kisah Barbie, boneka molek, yang menjadi role model bagi jutaan gadis-gadis cilik, dengan memberikan standar gaya dan kecantikan (Lazar, et.al. 2006).
Belum lagi kalau kita bicara pengaruh yang ditimbulkan oleh karya-karya Homer, Goethe hingga Ranggawarsita, yang memberi dampak yang luas bagi pandangan hidup masyarakatnya masing-masing.
Cendekiawan, Pengasuh Edulatif