Mampukah Yogyakarta Mengoptimalkan Potensi Wisata pada Libur Nataru...
Written by admin
Last updated on 2 Des 2024, 15.50
Oleh: Bekti Endar Susilowati
Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Ungkapan melankolis yang akrab bagi mereka yang pernah tinggal atau berkunjung ke Yogyakarta. Diadopsi dari puisi Joko Pinurbo yang mengandung makna bahwa Yogyakarta memiliki identitas dengan ciri khas yang selalu dirindukan untuk kembali dikunjungi. Sejalan dengan realita bahwa Yogyakarta menyandang predikat sebagai tempat tujuan wisata favorit pada tahun 2024. Hasil tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan oleh GoodStats yang berjudul “Kota Pilihan Masyarakat Indonesia 2024”.
Kepariwisataan merupakan salah satu perhatian utama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagaimana tertuang dalam visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2005-2025 yaitu DIY menjadi daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara pada tahun 2025.
DIY diharapkan memiliki pesona sebagai daerah tujuan wisata yang diminati baik masyarakat domestik maupun mancanegara. Sayangnya, Yogyakarta tidak termasuk ke dalam Destinasi Super Prioritas pemerintah pusat. Dalam website Kemenparekraf disebutkan bahwa 10 destinasi wisata prioritas Indonesia di luar Bali adalah Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Kepulauan Seribu di Jakarta, Danau Toba di Sumatera Utara, Wakatobi di Sulawesi Utara, Tanjung Lesung di Banten, Morotai di Maluku Utara, dan Tanjung Kelayang di Kepulauan Bangka Belitung.
Hal ini tentunya merupakan tantangan bagi Yogyakarta selama beberapa tahun ini, untuk melakukan effort yang lebih dalam bersaing dengan destinasi wisata daerah lain terutama Destinasi Super Prioritas.
Menurut Berita Resmi Statistik BPS Provinsi DIY, pada Bulan September 2024 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 9.621 kunjungan, atau mengalami penurunan sebesar 5,08 persen dibandingkan dengan Agustus 2024. Sementara itu, pada periode Januari-September 2024 perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke DIY sebanyak 28,48 juta perjalanan. Pada periode yang sama di tahun 2023 (cumulative-to-cumulative) tercatat sebesar 23,16 juta perjalanan atau mengalami peningkatan sebesar 22,99 persen.
Hal ini menggambarkan kecenderungan ketidakmerataan kunjungan wisatawan nusantara di Kabupaten/Kota se DIY. Kulonprogo memiliki potensi dengan keberadaan bandara YIA harapannya bukan hanya sekedar menjadi gerbang masuk dan keluar, namun juga memiliki potensi dalam pengembangan ruang-ruang pariwisata baru berkelas dunia di sekitar bandara.
Diketahui bahwa kontributor paling besar pendapatan ini berasal dari pajak usaha pariwisata meliputi pajak hotel, restoran, serta hiburan. Begitu pula Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bantul mencatat selama Januari sampai dengan Juni 2024, telah mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD) sebanyak Rp14,55 miliar atau 29,69 persen dari target PAD sektor pariwisata 2024 sebesar Rp49 miliar (Sumber : https://jogjapolitan.harianjogja.com/). Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gunungkidul dari sektor pariwisata pun mencapai Rp 16 miliar dan nilai tersebut melebihi 50 persen dari target PAD sebesar Rp 28 Miliar (Sumber: radarjogja.jawapos.com). Dapat disimpulkan bahwa bidang pariwisata memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam bidang ekonomi, baik perekonomian daerah maupun dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan disampaikan oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event), Vinsensius Jemadu di acara “The Weekly Brief with Sandi Uno” pada November 2023 bahwa libur Natal dan Tahun Baru merupakan salah satu momentum besar di sektor pariwisata. Untuk itu perlu adanya persiapan yang matang dalam menyambut momentum tersebut.
Sementara itu, Kabupaten Kulonprogo yang notabene memiliki kunjungan wisatawan yang paling rendah dibandingkan Kabupaten/Kota di DIY lainnya, dapat mengembangkan sektor pariwisata antara lain dengan menciptakan Beach front corridor dari Kulon Progo – Bantul (Konektivitas, Daya tarik, Akomodasi), MICE Center Destination – Art & Permormace Center (mendukung aerotropolis), dan Theme Park Sermo – Suroloyo dan Non stop shuttle Bandara – Kota Jogja (Sebagai Pusat Pariwisata).
Pemerataan potensi wisata juga dapat dilakukan dengan pengembangan dan peningkatan aksesibilitas melalui Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) agar membuka konektivitas Pantai Selatan Jawa dan membuka aksesibilitas destinasi wisata sepanjang pantai di DIY. Dalam aspek SDM pariwisata, perlu ditingkatkan kapasitas dan profesionalismenya, terutama dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Pengelolaan produk wisata juga perlu sentuhan yang profesional. Akomodasi/ hotel dan penginapan, rumah makan/restoran, cenderamata, marketing/media komunikasi dan kebutuhan lainnya untuk meningkatkan kekuatan dan meraih peluang serta menjadikan kelemahan dan tantangan sebagai kekuatan butuh pengelolaan secara berkesinambungan.
Sementara itu, pemerintah pusat juga telah melakukan persiapan menyambut Libur Nataru 2025. Dilansir dari situs https://www.menpan.go.id/ pada 24 Oktober 2024, Kemenhub sudah menyiapkan Operasi Nataru 2024/2025 untuk liburan aman dan selamat. Terkait sarana dan prasarana transportasi darat, Direktur Lalu Lintas Jalan, Ahmad Yani, memaparkan bahwa dalam operasi Nataru mendatang, sebanyak 113 terminal tipe A dan 32.120 bus, termasuk bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Jemput Antar Provinsi (AJAP), bus sewa, serta angkutan pariwisata, akan disiapkan untuk masyarakat yang hendak berlibur. Pihak Kemenhub juga akan melakukan inspeksi keselamatan melalui rampcheck terhadap 10.000 kendaraan angkutan umum mulai 6 November hingga 20 Desember 2024 di terminal-terminal tipe A.
Selain itu, ekonomi kreatif juga memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tarik destinasi wisata. Produk dan layanan kreatif dapat memperkaya pengalaman wisatawan, sehingga membuat mereka lebih tertarik untuk berkunjung dan kembali lagi. Sebagai contoh, festival budaya, galeri seni, dan pertunjukan musik lokal dapat menarik wisatawan dan menciptakan kesan mendalam tentang budaya setempat. Untuk mendukung pariwisata berkelanjutan, diperlukan kolaborasi antara sektor ekonomi kreatif dan industri pariwisata. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat hendaknya bekerja sama untuk mengembangkan produk kreatif yang unik dan berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelestarian budaya dan lingkungan, begitu pula meningkatkan daya saing destinasi wisata (Sumber: https://lsppariwisata.com/).
Ekonomi kreatif ini dapat pula dikembangkan melalui UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Optimalisasi peran UMKM dalam hal layanan dan produk, baik itu pada destinasi wisata, rest area, maupun pusat oleh-oleh dapat dilakukan guna mendukung sektor pariwisata. Dengan demikian, diharapkan sektor pariwisata juga dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.
Terkait urgensi pencapaian salah satu visi RPJPD yaitu “DIY menjadi daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara pada tahun 2025”, masih ada waktu di penghujung masa akhir RPJPD ini untuk melakukan upaya-upaya dalam menghadapi berbagai tantangan maupun hambatan, serta melakukan evaluasi kebijakan. Oleh karena itu, sangat diperlukan optimalisasi potensi untuk meningkatkan pesona Yogyakarta sebagai tempat destinasi wisata terutama dengan memanfaatkan momentum Libur Nataru 2025.
Bekti Endar Susilowati, S.Si., M.Stat.