Merdeka Belajar Ala Ki Hajar...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.39
Oleh: Wahjudi Djaja
Jumat Kliwon lalu penulis jalan-jalan ke pasar klitikan Cebongan. Tanpa diduga melihat buku lawas, Azas
Salah satu pilar pendidikan yang diulas oleh KHD adalah dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk dirinja sendiri. Kemerdekaan yang dimaksud bukan tanpa batas, tetapi tetap mempertimbangkan tertib damainya hidup bersama. Tertib saja tak akan menjamin hidup bersama akan damai dan tenteram. Ketertiban tak bisa ditegakkan dengan kata-kata yang kasar, apalagi dengan ancaman hukuman dan kekerasan. Itu hanya akan melahirkan kegelisahan, menggali luka dan menegasikan harkat kemanusiaan. Anak yang dididik dengan kekerasan, baik verbal apalagi fisik, akan menjadi pribadi penakut, kehilangan imaji dan dihinggapi inferioriteitscomplexen (perasaan rendah diri).
Pendidikan harus menyertakan dasar kodrat alam bahwa anak adalah manusia utuh dengan segenap jiwa raga. Ia selayaknya dibimbing sesuai fitrah dan tahap perkembangan mental intelektualnya. KHD menginisiasi
Modernisasi dan komersialisasi pendidikan tak luput dari tatapan KHD. Kekacauan dalam sistem pendidikan kita antara lain karena sejak awal bangsa ini terjebak dalam pola hidup kebarat-baratan yang cenderung elitisme. Pendidikan terlalu mengutamakan kecerdasan intelektual sehingga membentuk anak menjadi pintar tetapi kering imaji dan bersifat individualis. Itulah kenapa KHD mengintroduksi dasar kebudayaan dalam pendidikan yang selaras dengan kodrat anak. Semua anak bangsa berhak atas pendidikan yang layak agar anak bangsa bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Kemandirian dan swadaya dalam dunia pendidikan juga sangat ditekankan oleh KHD. Jika ingin mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya, jangan menerima bantuan yang mengikat diri kita karena bisa mengurangi kemerdekaan dan kebebasan. Bahkan dengan tegas disampaikan asas berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri. Untuk bisa mewujudkannya, lembaga pendidikan harus mampu membiayai segala usahanya dengan landasan sikap hidup sederhana.
Muara dari sistem pendidikan adalah selamat dan bahagianya anak didik. Oleh karena itu, pamong harus berhamba kepada Sang Anak.
.
Sungguh pribadi yang teguh, berkepribadian dan berkarakter.
Dalam konteks itu, kita baca kembali testimoni Bung Karno pada 5 April 1952.
.
Jika selevel Bung Karno saja jujur mengakui Taman Siswa sebagai inspirasi lahirnya Pancasila dan begitu hormatnya beliau kepada bangsawan yang merakyat ini, pantaslah kita melupakannya? Sistem pendidikan nasional kita kini seolah tanpa visi keindonesiaan. Saatnya bangsa ini kembali ke akar sejarah sebagaimana diletakkan oleh KHD sehingga Generasi Emas benar-benar lahir pada 2045.
Wahjudi Djaja, S.S., M.Pd. Dosen STIEPar API Yogyakarta, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA)