Mochtar Pabottingi Diantara Cakrawala dan Bintang-bintang Yogyakarta...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.55

Oleh: Wahjudi Djaja

Suatu malam. Mendadak masuk message dari Prof Mochtar Pabottingi pada 13 Juni 2014. Tercatat pukul 21.53 WIB. Cukup mengagetkan meski keramahan dan ketulusannya telah lama saya rasakan.

Entah apa pertimbangan saya menyapa sosok yang tulisan dan karyanya sering kubaca itu dengan panggilan Bang. Dan beliau menyapa saya dengan Bung. Egaliter. Cair. Menghunjam ke relung terdalam. Penuh penghormatan. Begitu kira-kira rasa kohesi yang memenuhi dada intelektual saya. Sosok berintegritas ini–kita ketahui dan kehilangan–meninggal pada 4 Juni 2023.

Bang Mochtar dan Tegoeh Ranusastra

Ceritanya begini. Pada 11 Juni 2014 Bang Mochtar Pabottingi ke Yogyakarta untuk me-launching buku karyanya, Burung-Burung Cakrawala (BBC). Sebuah catatan sejarah nan puitis yang begitu emosional dan autentik dalam mendokumentasikan kenangan, perjuangan, dan sikap hidup penuh pemihakan pada kejujuran dan keadilan dalam bingkai tumbuh kembang keindonesiaan. Acara digelar di lobby kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Di situlah Bang Mochtar bertemu dengan Tegoeh Ranusastra, sosok yang pernah hadir dalam memorinya saat menempuh kuliah di Fakultas Sastra dan Budaya UGM tahun 1968-1974. Itulah periode dimana Yogyakarta melahirkan banyak tokoh besar.

Seperti biasa, setelah mengikuti sebuah acara apalagi bersama tokoh atau idola, saya membuat status di facebook sebagai sebentuk reportase sekaligus penghargaan. Saya dan Bang Mochtar berteman di facebook sejak Agustus 2011. Dan simak bagaimana beliau menanggapi postingan saya:

Klarifikasi itu beliau sampaikan karena dalam tulisan publikasi acara launching saya sebut sebagai sejarawan. Tentu, saya paham dengan jenjang pendidikan Bang Mochtar di Sastra Inggris UGM. Tetapi kemampuan beliau dalam mengurai dan menulis beragam tema–bagi saya–memiliki kekuatan historis yang sangat tinggi. Bahkan, ijazah S1 beliau yang menanda tangani Prof Sartono Kartidirdjo, Mahaguru Ilmu Sejarah UGM yang sangat beliau hormat kagumi.

Catatan kenangan Bang Mochtar

Semula saya membuat semacam perbandingan liar. Sama-sama guru besar, beda antara Prof Sartono dan Prof Kayam. Prof Sartono kaya dengan data dan fakta sejarah tetapi tidak membuat novel. Sedangkan Umar Kayam leluasa menggunakan data dan fakta menjadi beberapa novel. Di antara keduanya–sekali lagi menurut saya–Bang Mochtar boleh diletakkan.

Sejak belia Bang Mochtar menyimpan cita-cita untuk bisa ke Yogyakarta. Sebuah kota kecil yang menjadi ibukota revolusi antara 1946-1949 dan karenanya menyedot kehadiran banyak tokoh papan atas negeri ini dari berbagai bidang. Semua dikisahkan secara detail, tidak saja menyangkut tokoh dan peristiwa, tetapi juga sudut-sudut kota yang mungkin tak banyak bisa dikenali lagi. Saya kutipkan:

. (BBC: 85)

Gedung utama yang dimaksud adalah Balairung UGM. Sebuah gedung yang menjadi bagian Panca Dharma, lima gedung utama yang diresmikan Bung Karno pada 19 Desember 1959. Itulah gedung yang menjadi simbol bangunan modern pertama Indonesia. Dan Bang Mochtar menaruh tinggi-tinggi pembangunan gedung itu karena tak ada korupsi, hal yang kian langka ditemukan di Indonesia pada periode sesudahnya.

Berada di Kampus Biru–seperti beliau tulis–telah menjadi jalan baginya untuk membuka cakrawala dan bertemu bintang-bintang:

.

Yang dimaksud bintang-bintang Bang Mochtar adalah Umbu Landu Paranggi (Presiden Malioboro), AR Fachruddin (Muhammadiyah), Dick Hartoko (Basis), Affandi (Pelukis), WS Rendra (Bengkel Teater), Umar Kayam, Kuntowijoyo, Sartono Kartodirdjo, Mukti Ali, Baiquni dan Ahmad Wahid. Nama-nama itu bukan hanya dicatat dan diingat tetapi memang dekat secara intelektual dan kultural dengan Bang Mochtar. Banyak kegiatan diikuti mulai diskusi, pentas sampai demonstrasi.

Enam tahun belajar di Yogyakarta tidak saja membukakan cakrawala intelektual tetapi juga mengubah kepribadiannya. Tidak lagi Bugis minded, tetapi lebih njawani. “

Begitulah Bang Mochtar. Ilmuwan berintegritas dengan sikap yang jelas. Pemikir yang tak lupa berdzikir. Penulis yang sarat dengan kesempurnaan pemahaman akan makna seorang idealis. Hangat bersahabat dan selalu memberi penghormatan atas teman, apapun arti dan level pertemanan.

Sebagai catatan penutup, saya tulis pesan beliau untuk kami yang muda. Pesan ditulis pada 4 Juni 2018:

Dan 4 Juni 2023, Prof Dr Mochtar Pabottingi dipanggil pulang oleh Allah. Sosok tegas berintegritas namun santun bersahabat itu telah purna dengan tugas kesejarahannya. MasyaAllah. Hidup yang hebat dan indah, Bang.

Ksatrian Sendaren, 4 Juni 2024