Mudik: Antara Kembali ke Rahim dan Tradisi Tak...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.56

Oleh: Wahjudi Djaja

Minggu (7/4/2024) diminta menjadi narasumber dalam acara Indonesia Menyapa Siang RRI Pro3 Jakarta. Tema yang diangkat, “Makna Mendalam di Balik Tradisi Tradisi”. Mudik menjadi fenomena kultural yang khas Indonesia dan telah berakar jauh dalam sejarah bangsa. Menarik untuk melihat makna yang ada di dalamnya, baik yang dialami pemudik maupun masyarakat.

Lebih dari sekedar perpindahan manusia pada aspek geografis, dari kota ke

Setahun lamanya mereka merantau, menapaki dinamika hidup yang keras. Ungkapan yang sering muncul, “kepala untuk kaki, kaki untuk kepala”. Dari bangun tidur sampai mau tidur kembali, hidup didedikasikan untuk mencari nafkah, mengumpulkan rezeki dan membuka peluang hidup. Makan dengan garam adalah wajar dan biasa mengingat banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Bisa jadi mereka mengalami transformasi, dari manusia udik yang ramah penuh kesabaran dan kearifan menjadi manusia kota yang keras dan pantang menyerah. Mereka akan sangat memahami ungkapan mencari “uang haram saja susahnya minta ampun apalagi yang halal”. Tentu, tak semua perantau mengalami perubahan mental karakter. Ada yang tetap menjaga irama pedesaan saat hidup di perkotaan, tetapi itu persentasenya kecil. Rata-rata, mereka sangat menghargai waktu,

Maka momentum lebaran dengan mudik adalah saat dimana anak memberikan laporan kepada orang tua, anak dan istri atau suami. Terbayang, beberapa tetangga di Bayat (Klaten) pulang mudik dengan membawa mobil lengkap dengan oleh-oleh dari kota. Sedang yang berperan menjadi pedagang kecil di kota, saat mudik akan mampir pasar untuk membeli gula pasir, teh, roti dan tembakau untuk orang tua. Biasanya barang-barang itu dimasukkan dalam kardus lalu dipundak saat turun dari bis menuju rumah.

Namun ada pengalaman spiritual yang penting dicatat saat mereka mudik. Mereka kembali ke udik, tempat lahir dan dibesarkan. Mereka sesungguhnya secara simbolis kembali ke rahim, tempat indah penuh kedamaian dan ketenangan. Mereka merasa perlu untuk me-

Sampai di titik itu, mudik masih menjadi tradisi asali yang menyimpan beragam kearifan. Mulai berubah saat ukuran-ukuran dan etika moralitas ditinggalkan. Mudik dan segala turunannya–reuni, syawalan, wisata, kumpulan trah dan

Ruang yang terbuka bagi jiwa untuk kembali ke rahim (kasih sayang) semakin terkontaminasi oleh tradisi yang tak lazim. Apalagi narasi yang dibawa dan diceritakan menjadi “kota minded”. Momen syawalan lebaran yang mestinya riuh rendah dengan berbagi kisah menjadi kaku dan kering karena masing-masing asyik dengan androit model terbaru atau narasi yang didominasi sudut pandang kota. Kalau sudah begini, mudik tak ubah invasi budaya kota atas harmoni desa. Celakanya, agen perubahannya adalah manusia setengah kota setengah desa, kakinya di desa kepalanya di kota. Oalah…

Ksatrian Sendaren, 8 April.2024