Sarasehan “Dari Kampung Arwah” Membuka Pintu Sejarah...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.56
Sarasehan yang digelar Komunitas Kandang Kebo kali ini terasa istimewa. Selain bertepatan dengan Ruwah, tema yang diambil juga berkaitan dengan bulan Ruwah yaitu Dari Kampung Arwah: Tentang Nisan Makam di Jawa. Kita mencoba melestarikan warisan budaya kita semampu kita.
Demikian disampaikan Ketua Komunitas Kandang Kebo Dr Maria Tri Widayanti saat membuka sarasehan, Sabtu (24/2/2024). Tiga narasumber hadir yakni Muh Yaser Arafat MA, M Zaki Riyanto MSc (keduanya dosen UIN Sunan Kalijaga) dan Wahjudi Djaja MPd (dosen STIEPAR API Yogyakarta) dengan moderator Transpiosa Riomanda MA (Antro Jalan-jalan).
Dalam paparannya Yaser mengawali dengan temuan arkeolog Hasan Muarif Ambari. “Dalam disertasinya di Prancis beliau membedakan nisan Troloyo dan Demak, karena lokasi penelitiannya di Demak dan Troloyo. Dari situlah nisan yang ada di Jawa dibedakan menjadi nisan Demak dan nisan Troloyo sampai saat ini”, tandas pakar nisan ini.
Setelah lama mengamati beragam jenis nisan dan makam, lanjut Yaser, muncul keinginan untuk mengamati dengan kaca mata Antropologi Budaya. “Ini yang membedakan saya dengan Pak Ambari yang meneliti dengan pendekatan arkeologi, sedangkan saya melihat dari sisi antropologi budaya material karena nisan atau kijing itu budaya material. Setelah Demak, dalam pengamatan saya, ada tipe-tipe makam sendiri, mulai era Pajang sampai Sultanagungan yang kemudian saya klasifikasikan sebagai nisan Hanyokrokusuman”, ungkap dosen Prodi Sosiologi Agama ini.

Sementara itu Zaki menyampaikan materi tentung Etnomatematika, sebuah langkah ilmiah yang dilakukan dengan penelitian terhadap ratusan nisan tetapi dengan bantuan ilmu matematika. “Dari perbandingan sejumlah nisan, kita bisa menemukan rasio terkait perkembangan nisan”, jelasnya sambil menguraikan rumus yang dipakai.
Sedangkan Wahjudi Djaja lebih menyoroti upaya pemberdayaan jejak sejarah dan arkeologis terkait pengembangan potensi desa. “Hasil identifikasi ini penting ditindaklanjuti sebagai sebuah pendekatan budaya. Momen ruwahan bisa dijadikan sarana untuk melacak jejak melalui penelusuran nisan. Sehingga perlu nisan ditransformasikan dari produk budaya menjadi produk wisata”, paparnya.