Sekitar Kekunaan Masjid Menara Kudus...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.56
Oleh: Transpiosa Riomandha
Masjid Menara Kudus memiliki Kori atau Gapura Paduraksa yang berkelindan dengan “bangunan baru” masjid. Terdapat dua kori, satu di serambi luar, dan satu yang ada di bagian dalam, mendekati mihrab. Dua kori yang ada di dalam disebut sebagai Lawang Kembar. Ada pula kisah mitologi yang mengatakan bahwa Kori ini dibawa oleh Sunan Kudus dari Majapahit dalam sakunya! (Digawa dilebokne sak kiwa tengen).
Arsitektural Masjid Menara Kudus ini juga mengadaptasi gaya arsitektur bangunan candi, seni bangunan peribadatan (Hindu-Buddha) yang saat itu masih tumbuh dengan baik. Beberapa ukiran geometris pada bata, ukiran sulur vegetasi pada batu putih, serta ukiran pada bagian atas pintu kayunya, mirip dengan apa yang sering kita lihat menghiasi tubuh-tubuh Candi. Saya jadi teringat beberapa masjid di Tuban juga memiliki bangunan lama dari bata dan batu putih, di dalam masjid.
Dalam kebudayaan manapun, mungkin air menjadi hal yang sangat penting dalam peribadatan. Sebelum sholat, kita harus berwudlu, bahkan sebelum memasuki tempat yang dianggap suci/bersih kita dituntut untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sendang – Petirtaan menjadi tempat pembersihan diri sebelum melakukan ibadat ke candi-candi. Pada beberapa upacara, orang-orang mengambil air dari berbagai sumber dan mata air sebagai simbol kesucian dan pembersihan diri.
Pada kompleks Masjid Menara Kudus, saya sempat melihat dua lokasi “Padasan” tempat membersihkan Hadast, sebelum memasuki masjid serta sebelum memasuki makam. “Padasan” wudlu sebelum masuk masjid terbuat dari bata merah yang berhias ornamen gentong atau bejana. Konon, di atasnya dahulu pernah diletakkan semacam arca. Pancuran tempat keluarnya air, kini diberi kran. Sementara itu “Padasan” di sebelah pintu masuk makam, berupa kolam bertinggi setengah badan ada ciduk-ciduknya. Penampakan dari atas, terlihat seperti ada dua mulut bejana yang tenggelam di dalamnya.
Dua Padasan ini dikisahkan adalah dua jejak komponen bangunan kuno masjid Kudus yang telah hadir sejak 956 H atau 1549 Masehi. Sekilas secara keseluruhan, arsitekturalnya mengingatkan pada bangunan peribadatan masa pra Islam: Candi. Pada masa Masjid ini dibangun, kebudayaan pra Islam masih sangat berpengaruh. Nah, ada juga informasi yang mengatakan bahwa pada tempat wudlu sebelah masjid yang terdiri atas delapan kran itu adalah adaptasi Asta Sanghika Marga, ajaran delapan jalan kebenaran Buddhis.
Kayu-kayu yang dijadikan saka guru, pintu, jendela termasuk yang ada di Lawang Kembar terlihat istimewa. Saya kurang memperhatikan dengan seksama, namun saat kita memandang langit-langit bagian Soko utama, tautan penghubung antar kayunya tampak saling mengunci erat. Mungkin menggunakan panthok kayu juga.
Arsitektural Masjid Menara Kudus yang aduhai buat saya adalah menaranya. Konstruksi ekspose bata merah yang ditimpali keramik dan kayu begitu menggugah hati. Pada beberapa bagian, kita dapat menemukan beberapa kemiripan Menara ini dengan bangunan pra Islam: Candi. Bahkan terlihat miniatur Candi menjadi penghias menara pada sisi selatan dan utaranya.
Hari Jum’at atau pada saat tertentu Bedug dan Kenthongan yang ada di dalam Menara Masjid Kudus akan dibunyikan.
Antropolog Alumni FIB UGM, Eksponen Antrojalan