Sikap dan Integritas Ismail Marahimin...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.55

(23 April 1934—26 Desember 2008)

Pada tahun 1999, Taufiq Ismail atas nama majalah

Pelatihan pertama diselenggarakan di PPG Srengseng dengan peserta guru-guru SMA se-Jakarta. Pada sesi pertama, setelah upacara resmi dengan segala macam sambutan dari pejabat Depdikbud, acara pelatihan siap dimulai. Semua peserta berpakaian rapi, semi resmi, berbatik lengan panjang, berdasi, ada pula yang pakai jas. Wajah mereka tampak tegang, penuh disiplin, dan terkesan agak kaku. Boleh jadi itu tradisi penataran atau pelatihan guru-guru zaman Orba. Sementara para instruktur, berpakaian lebih santai. Tidak ada yang memakai batik. Ismail Marahimin malah pakai sepatu sandal dengan pipa cangklongnya yang tidak pernah ketinggalan. Meski ketika menyampaikan materi, ia tak mengisap cangklongnya, tetap saja bawa cangklong ke dalam kelas sebagai peristiwa tidak biasa,

Pada sesi pertama, Taufiq Ismail tampil sebagai pemberi materi. Agus dan Jamal belum hadir ketika itu. Jadi saya bertindak sebagai moderator. Tetapi, sebelum saya memperkenalkan narasumber, seorang peserta maju ke depan kelas. Ia berdiri tegak menghadap Pak Taufiq. Lalu, dengan suara lantang, peserta itu berteriak:

Setelah semua peserta kebagian membuat satu kalimat melanjutkan kalimat-kalimat sebelumnya, kami mengambil kertas itu dan menyerahkannya ke Pak Ismail. Sambil berdiri, ia lalu membacakan satu per satu deretan kalimat yang dibuat para peserta itu. Hasilnya?

Begitulah kesan pertama yang ditampilkan Ismail Marahimin. Tetapi seketika, suasana pelatihan jadi cair. Wajah para peserta tidak lagi tegang dan kaku. Setelah itu, Pak Ismail menyampaikan beberapa hal penting dalam perkara menulis. Singkat. Tidak lebih dari lima—sepuluh menit.

Para peserta dibuat bengong. Lalu ada pertanyaan tentang format tulisan, panjang—pendek, jumlah halaman, pencantuman nama, asal sekolah, judul, dan seterusnya. Jawaban Pak Ismail Marahimin, singkat saja, “

Begitulah, sesi Menulis—Ismail Marahimin, adalah sesi yang paling heboh: menjengkelkan, melelahkan, dan menyenangkan! Mabok Tugas! Pada setiap awal pertemuan, tugas-tugas para peserta dipereteli, dijentretkan kesalahannya, dan dibacakan kelucuannya. Saya dan Cecep diberi kesempatan sekitar lima—10 menit untuk mengomentari hasil koreksian masing-masing. Setelah itu, Pak Ismail akan menyampaikan ihwal topik yang akan dikerjakan, memberi beberapa contoh yang disediakan dalam buku yang disusunnya sendiri,

Pelatihan MMAS itu diselenggarakan selama 12 hari. Dapat dibayangkan, betapa kesalnya para peserta dalam mengikuti sesi menulis. “

Di luar ruang pelatihan, guru itu berteriak-teriak agak histeris. Ia memeluk temannya. Keduanya meneteskan air mata! Sungguh, saya melihat peristiwa itu. Tak tahan, ikut meneteskan air mata juga.

Pelatihan selama 12 hari itu pun selesai. Tanpa mengurangi peran besar instruktur lain, Pak Ismail Marahimin yang paling punya kesan khas di mata para peserta: nyeleneh, menjengkelkan, menyenangkan, dan membuka mata para peserta, bahwa belajar menulis, ya, menulis! Belajar mengarang, ya mengarang!

Apa yang terjadi kemudian pada para instruktur dan sastrawan tamu?

Saya bengong! Cecep terdiam. Pak Taufiq Ismail terpana. Tampak, Pak Taufiq menahan tangis—atau menahan kemarahan? Setelah Panitia meninggalkan kami. Kami berembuk.

Setelah berdiskusi, diputuskan Program MMAS tidak perlu dilanjutkan lagi, jika honor untuk para instruktur dan sastrawan tamu, tidak sesuai dengan yang diusulkan. Saya melihat wajah Pak Taufiq Ismail begitu kusut menahan tangis dan kemarahan. Pak Ismail Marahimin pun meninggalkan kami, tanpa membawa uang seperak pun! Dalam hati, saya menjerit! Memohon maaf. Pak Ismail Marahimin, maafkan saya. Saya belum sanggup mengikuti tindakan Pak Marahimin. Honor kecil ini, bagaimanapun, ditunggu orang rumah. Maka, terpaksa tidak saya kembalikan pada Panitia!

Sebagai junior, saya bangga punya senior yang punya sikap! Ia menentukan harga berdasarkan kualitas yang dimilikinya. Jika honor itu dianggap melecehkan kualitas dirinya, ia berani mengembalikan pelecehan itu kepada Panitia. Dalam banyak hal, Pak Ismail adalah sosok kompromistis, tetapi dalam hal lain yang menyangkut harga diri, ia tegas: tidak ada kompromi!

Dua minggu kemudian ada berita, Program Pelatihan MMAS dilanjutkan. Semua kekurangan honor akan dibayarkan. Pelaksana diserahkan kepada pihak PPG—konon, Ketua Panitia sebelumnya, dimutasi entah ke mana. Saya tetap sebagai asisten Pak Ismail Marahimin. Belakangan, entah pada Program MMAS yang ke berapa, Sunu Wasono dilibatkan menggantikan Cecep Syamsul Hari yang masuk pada tim apresiasi sastra. Pelaksanaannya juga berpindah-pindah bergantung pada sasaran pesertanya per provinsi, misalnya, Banjarmasin untuk peserta guru-guru di Kalimantan Selatan. Kota-kota lainnya, di antaranya, Cipayung—Bogor, Jakarta, Makassar, Malang, Mataram, Medan, Palembang, Pekanbaru, Yogyakarta, dan entah kota apa lagi. Para pesertanya yang semula diserahkan kepada Dinas Pendidikan setempat, kini ditentukan berdasarkan kriteria, yaitu guru muda yang berprestasi!

Yang tidak lucu adalah waktu pelaksanaan. Awalnya 12 hari, lalu 10 hari, diperpendek lagi jadi seminggu dengan waktu efektif enam hari. Program MMAS berlangsung entah sampai tahun berapa, sebab pada akhir Agustus 2008, saya pergi ke Korea Selatan sehingga tidak terlibat lagi dalam perancangan dan pelaksanaan program itu.

Pada musim dingin pertama di Seoul menjelang pergantian tahun, saya mendengar berita duka yang mendalam: senior yang membanggakan, guru istikomah, sahabat yang baik dan setiakawan, dan orang baik itu, Ismail Marahimin, selesai menjalankan tugasnya di dunia, 26 Desember 2008. Sungguh, banyak hal yang saya pelajari dari sosok Ismail Marahimin: sikap, integritas dan dedikasi! Ia telah meninggalkan sebuah warisan penting bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di FIB-UI: Penulisan Populer!

Terima kasih, Pak Ismail Marahimin telah menjadikan saya cantriknya selama 10 tahun! Tenanglah di Surga. Alfatihah..

Dosen FIB UI