Situs Pamokshan Gajah Mada di Panjer Kebumen...
Written by admin
Last updated on 20 Okt 2024, 05.52
Oleh: R. Ravie Ananda SPd
Situs Pamokshan Gajah Mada/Eyang Sabda Palon adalah situs tempat bertapabratanya Gajah Mada/Eyang Sabda Palon hingga mencapai tingkat
Dua situs itu letaknya berdekatan situs Makam Kuwu Panjer (Pemimpin Kerajaan Panjer/Nagara Panjer sebelum era Demak) di dalam kompleks eks Pabrik Mexolie/Sarinabati Panjer, Kebumen, Jawa Tengah. Selain dua situs berharga tersebut, di kompleks Mexolie juga terdapat situs Sendang Kalasan yang dikenal sejak zaman Kerajaan Kediri sebagai sendang yang digunakan untuk ritual pemandian/pembersihan diri para Raja Jawa. Sendang ini diubah menjadi sumur oleh Belanda, setelah dikuasai dan dibumihanguskannya Pendopo Agung Panjer pada tahun 1831. Pengubahan Sendang Kalasan menjadi sumur bersamaan dengan pengubahan wilayah Pendopo Agung Kadipaten Panjer menjadi Pabrik Mexolie.
Dikisahkan dalam beberapa riwayat babad, bahwa setelah terjadinya peristiwa Bubat, Gajah Mada diberhentikan dari jabatannya dan kemudian melakukan perjalanan ke barat hingga murca/mokshanya. Dari berbagai literatur, riwayat Gajah Mada hingga kini masih menjadi rahasia, termasuk tempat pamokshan beliau. Di kompleks eks Mexolie/Sarinabati inilah Pamokshan Gajahmada yang dikuatkan dengan adanya situs Punden Majapahit (tempat dimurcakannya pusaka–pusaka penting Majapahit) di dusun Loning, Desa Sadang Wetan, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen berada.
Nama Sadeng terdapat di beberapa daerah antara lain Sadeng di wilayah Bogor Jawa Barat, Sadeng di wilayah Gunung Pati di Semarang, Sadengrejo di daerah Pasuruan dan Sadang di daerah Kebumen.
Sadeng di wilayah Gunung Pati Semarang juga bukan daerah yang dimaksud dalam riwayat, sebab hingga kini belum ada riwayat penemuan bekas bekas kejayaan pemerintahan kerajaan di daerah tersebut.
Sadengrejo di wilayah Pasuruan sangat kecil kemungkinannya sebagai daerah yang dimaksudkan dalam riwayat Gajah Mada. Jika di wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya pemberontakan, tentunya sudah sejak dahulu diteliti oleh para pakar sejarah. Apalagi daerah tersebut sangat dekat dengan pusat pemerintahan Majapahit.
Sadang di wilayah Kebumen ini lebih yang mempunyai kelayakan sebagai tempat yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada itu. Analisis objektif didasarkan beberapa hal berikut.
Adanya situs Punden Majapahit yang lokasinya berada di tengah sawah Majapahit.
Peristiwa perjalanan ke barat dalam rangka pelamaran putri Raja Pajajaran oleh Kerajaan Majapahit tentunya melalui jalur Urut Sewu Kebumen yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai jalur utama penghubung berbagai daerah di pulau Jawa khususnya di wilayah selatan. Artinya wilayah Kebumen yang pada waktu itu kemungkinan memiliki nama lain seperti misal Panjer, Sadeng, Galuh/Sigaluh dan lain–lain telah dikenal oleh Majapahit.
Adanya bekas Asistenan zaman Belanda di wilayah Sadang Wetan yang membuktikan bahwa di daerah tersebut pasti memiliki keistimewaan tersendiri, sebab telah menjadi pola dari Belanda dalam tiap mendirikan tempat pemerintahan dan tempat–tempat pentingnya pasti selalu menempati wilayah yang merupakan bekas kejayaan masa lalu Nusantara.
Kata pemberontakan dalam konteks Pemberontakan Sadeng, bisa diartikan sebagai subjektifitas kedaerahan mengingat kitab tersebut adalah kitab yang ditulis oleh wangsa atau penguasa yang dominan pada waktu itu. Artinya ada kemungkinan juga bahwa Sadeng sebetulnya merupakan wilayah mancanegara dari Majapahit atau kerajaan tersendiri yang berusaha ditaklukan oleh Majapahit. Karena melakukan penolakan atau perlawanan, maka Sadeng kemudian dianggap sebagai pemberontak.
Sebuah wilayah atau pemerintahan berani melakukan pemberontakan pastinya telah memperhitungkan kekuatan pihak yang akan diberontak, artinya Sadeng telah memperhitungkan kekuatan Majapahit yang saat itu telah menjadi kerajaan yang besar, dapat diartikan juga bahwa Sadeng bukanlah wilayah dengan kekuatan yang kecil.
Setelah beberapa waktu berada di tempat ini (Sadang), Gajah Mada kemudian melanjutkan perjalanannya ke selatan menyusuri sungai Luk Ula dan berhenti di daerah Panjer Kuno yang dahulunya masih berupa hutan kelapa di tepian Kerajaan/Kadipaten Panjer (yang kemudian menjadi Mexolie/Sarinabati Panjer Kebumen). Di Panjer kuno inilah kemudian Gajah Mada Moksha/Murca.
Pamokshan Gajah Mada, Pertabatan para Raja Jawa dan beberapa situs lain di kompleks eks Mexolie Panjer ini kini terancam hilang, dikarenakan beberapa waktu ke depan lokasi eks Mexolie akan segera dibangun menjadi tempat wisata dan perhotelan. Kiranya perlu kearifan dan kebijakan pemikiran dari pihak pengembang dan investor demi kelestarian situs berharga milik bangsa ini.
Semoga Tuhan melalui para leluhur dan mekanisme alam menyelamatkan situs Pamokshan Gajahmada, Pertabatan para Raja Jawa, Situs makam Kuwu Panjer, Sendang Kalasan, dan beberapa situs lainnya yang berada di eks Mexolie/Sarinabati Panjer, Kebumen, Jawa Tengah.
NV Oliefabrieken Insulinde Keboemen memiliki kesamaan dengan NV Oliefabrieken Insulinde Kediri dimana di sana terdapat pula Pamoksan Jayabaya, artinya sebelum menjadi NV Oliefabrieken Insulinde Kediri, lokasi itu merupakan lokasi penting yang sengaja di hilangkan jejaknya oleh Belanda, salah satunya adalah sebagai tempat moksanya Raja Jayabaya Kediri.
Sejarawan dan Budayawan Kebumen