Soedirman Teladan Dalam Laku dan Perkataan...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.57
Oleh: Wahjudi Djaja
“Satu-satunya hak milik republik ini yang tidak berubah meskipun mengalami soal dan perubahan hanyalah angkatan perang Republik Indonesia. Mari kita bersama jadikan negara kita Indonesia sebagai bangsa pemenang. Kita memastikan pesan Jenderal Soedirman itu akan terus tegak dan kita dirikan” kata Jokowi memberi closing statement dalam debat capres ketiga di Hotel Holiday Inn, Jakarta Pusat, Ahad (detiknews 22/6/2014).
Hari-hari menjelang Pilpres 2024 TNI dan Polri berada dalam tatapan mata rakyat. Netralitas disoal. Keteguhan TNI dalam memegang amanat sejarah ditunggu, tidak saja oleh para calon presiden dan wakil presiden, tetapi juga rakyat Indonesia. TNI adalah hak milik nasional yang harus menjaga dengan disiplin posisi dan perannya saat kontestasi berlangsung. Sapta Marga dan Sumpah Prajurit tentu bukan hanya untuk dihapalkan tetapi dilaksanakan dan dipraktikkan secara benar penuh rasa tanggung jawab kepada bangsa dan negara.
Kepada Suara Muhammadiyah (Edisi 20 Tahun 2019), Sardiman AM dosen UNY yang meneliti Soedirman menjelaskan, sikap bertanggung jawab dan pantang menyerah dari Jenderal Soedirman ini diabadikan dalam Sapta Marga Tentara Nasional Indonesia. Pada Sapta Marga nomor dua ditulis, “Kami Patriot Indonesia, mendukung serta membela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah”.
Laku hidup penuh perjuangan yang dihayati dengan kesungguhan dan keikhlasan melahirkan sikap dan jatidiri yang menjadi teladan. Kata-kata yang disampaikan baik berupa amanat maupun pesan kepada para prajurit menjelma menjadi kata mutiara yang bernas dan memotivasi untuk berjuang. Hampir di semua patungnya tertera kalimat yang diambil dari amanat atau pesan kesejarahan. Lebih dari sekedar kata-kata, untaian kalimat itu menyimpan hikmat. Ia menjadi pedoman tiap kesatuan dalam menggerakkan perjuangan. Soedirman adalah teladan.
Dinamika revolusi kemerdekaan 1948-1949 menyisakan kisah yang tak pernah luntur diceritakan. Pagi hari 19 Desember 1948 pasukan Belanda menduduki Maguwo (bandara Adisutjipto). Sebelum sampai tengah kota, Soedirman dengan dikawal Suparjo Rustam, Tjokropranolo dan Suwondo menemui Bung Karno di Istana Gedung Agung. Dia mengajak pemimpin bangsa itu untuk menyingkir dan memimpin perjuangan bersama rakyat. Bung Karno menolak.
Kepada Cindy Adam, Bung Karno berkata:
.
Negosiasi alot berlangsung. Mereka akhirnya bersimpang jalan. Dengan memendam rasa kecewa, Soedirman keluar kota memimpin pasukan dalam perang gerilya, Bung Karno tetap di Istana hingga ditawan oleh van Langen pada 22 Desember 1948 untuk diasingkan ke Sumatra.
Hampir delapan bulan Soedirman memimpin perang gerilya. Naik turun gunung berkejaran dengan pasukan Belanda dalam panas dan hujan. Belanda salah baca. Seolah dengan membombardir Maguwo, menduduki Yogyakarta dan menawan Bung Karno serta anggota kabinet, Indonesia telah bisa ditaklukkan. Dalam kondisi sakit parah, Soedirman yang disapa rakyat dengan Pak Dhe mengawal Republik. Perlu dicatat peran PDRI di Sumatra yang tak henti mengabarkan pada dunia tentang Indonesia.
Sempat dirawat di Panti Rapih, Soedirman kemudian menjalani pengobatan di Rumah Paristirahatan Tentara Badaan Magelang. Pada 29 Januari 1950, Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat. Tak sempat menikmati kemerdekaan yang lahir batin dia perjuangkan. Kita baca salah satu pesannya kepada TNI, “Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita, jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga. Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang mudah dibelokkan haluannya”.
Ksatrian Sendaren, 29 Januari 2024