Sutan Sjahrir, Banda Neira dan Hidup yang Getir...
Written by admin
Last updated on 10 Des 2025, 15.56
Oleh Wahjudi Djaja
“Ia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam pembuangan Indonesia merdeka. Ikut serta membina Indonesia merdeka. Tetapi ia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka”.
Tak terbayang kesedihan Bung Hatta saat harus mengantar kepergian sahabat sejatinya yang mendahului kembali ke pangkuan Tuhan. Pada 9 April 1966, perdana menteri termuda dalam sejarah itu wafat di Zurich Swiss dan dimakamkan pada 19 April 1966 dalam status tahanan politik. Ironis sekaligus tragis. Sejak muda berjuang demi Indonesia merdeka, saat merdeka mengawal negara menghadapi tipu daya Belanda, tetapi akhir hidup justru dipaksa menempati ruang yang redup.
Lahir 5 Maret 1909 di Padang Panjang Sumatra Barat, Sjahrir dikenal sebagai sosok revolusioner. Bacaan kaliber dunia telah dilahap sejak belia saat sekolah di ELS dan MULO, pada 1926 telah menginjakkan kaki di Bandung untuk sekolah di AMS. Cerdas dan jago debat, menjadikan Sjahrir disegani beragam komunitas pergerakan di Bandung. Pada 1927 telah menggagas Jong Indonesia, yang kemudian aktif memfasilitasi Kerapatan Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Semangat perjuangan yang tak pernah padam membawanya ke Fakultas Hukum Universitas Amsterdam. Bersentuhan dengan sosialisme, Sjahrir bergabung dengan Mohammad Hatta dalam Perhimpunan Indonesia. Organisasi inilah yang pada 1925 membuat Manifesto Politik, peta jalan bagi pergerakan nasional di Indonesia.

Pada 25 Oktober 2018 saya berkesempatan ke Banda Neira dalam sebuah acara sastra Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS). Tak ketinggalan mengunjungi rumah pengasingan para tokoh tersebut termasuk Sjahrir. Cukup menarik dan emosional Sjahrir menggambarkan pulau kecil penghasil pala yang dikenal dunia dan diangankan JP Coen sebagai pusat kekuasaan Belanda. Jejaknya berupa Istana Mini yang dalam beberapa hal mirip Istana Negara. Keindahan Banda Neira tidak saja dia tulis dalam Renungan dan Perjuangan, tetapi juga korespondensinya dengan istrinya Ducatheu. Pesan sejarah yang fenomenal adalah, “Jangan mati sebelum ke Banda Neira”.
Mengitari pulau ini memang tak salah jika Sjahrir begitu terkesima dengan keindahan Banda Neira. Berlatar Gunung Api Banda yang gagah dan anggun, kepulauan ini memang kaya dan subur. Jejak kejayaan pala Banda bisa ditemukan di Pulau Ay. Pulau dengan keragaman hayati yang luar biasa ini amat subur. Anehnya, pulau ini tak mempunyai mata air atau sumur. Kebutuhan air penduduk diambil dari air hujan. Tiap rumah mempunyai bak penampung air. Kekayaan orang kadang dilihat dari seberapa besar ukuran baknya.

Di tempat ini dulu ada beberapa parkenier, serupa tuan tanah dengan kebun pala luas. Satu diantara yang saya datangi adalah Welvaren. Pada gapura terlihat jelas pemilik dengan prasasti. Di dalamnya ada rumah yang besar dan megah meski sudah rusak parah. Di sisi timur ada dapur pala, mirip tobong genteng atau bata, tempat pengasapan pala agar awet tahan lama.
Pagi 8 Mei 1621, 40 putra putri terbaik Banda Naira menjalani hukuman mati atas perintah Gubernur Jenderal VOC Jan Peter Zoon Coen. Jejaknya berupa Parigi Rante. Mereka pejuang dan orang kaya yang mempertahankan kehormatan Banda dari monopoli pala Belanda.

Ada 8 tokoh dihukum potomg pancung yakni Ayup (Imam Dender), Kodiat Ali (OK Salamon), Jareng (OK Komber), Kakiali (Hulubalang), Kalapaka Maniasa (OK Lontor), Lebe Tomadiko (OK Lontor), Makatita (OK Ratu), dan Pati Kiat (Imam Kiat). Ada 32 tokoh yang dipenggal kepalanya, yakni Abdul Rahman, Asam, Asan, Bai, Boisan, Boi Ira, Boi Niela, Boi Waini, Datou, Flias, Hassan, Husin, Idries, Islam, Kakiay, Kuat, Kusin, Kodiat Oman, Lampa, Mai Burang, Mai Ari, Malim, Malim Driri, Mai Raman, Mai Sela Lebama, Ratou, Ralou, Saman, Sanda, Salem, Senen, Soda Page. Tercatat 6000 rakyat Banda dibantai era 1602-1621. Parigi adalah nama lain sumur. Di dalam sumur inilah jenazah 40 orang kaya (OK) Banda dimutilasi dan dimasukkan ke dalamnya.
Dalam bingkai keindahan dan kekejaman itu, Sjahrir melihat Banda Neira sekaligus menatap Indonesia. Energi dan komitmen Sjahrir tertuang di dalam karyanya Perdjuangan Kita. Bersama barisan muda, Sjahrir menginginkan proklamasi kemerdekaan pada 15 Agustus 1945, bukan 24 September 1945 sebagaimana direncanakan PPKI. Bau Jepang sangat dihindari oleh Sjahrir. Sejarah kemudian memberi jalan tengah melalui beberapa peristiwa monumental hingga mencapai klimaks 17 Agustus 1945.
Sejarah membuka ruang lebar bagi Sjahrir di awal kemerdekaan. Saat memasuki era parlementer, Sjahrir menjadi Perdana Menteri termuda di dunia. Pada usia 36 tahun harus mengendalikan pemerintahan–merangkap Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri sekaligus–yang harus menghadapi rakus ambisi Belanda dan beragam permasalahan dalam negeri. Dia menjabat PM pada periode 14 November 1945 – 3 Juli 1947, sebuah masa krusial dalam hidup mati Indonesia. Diplomasi tetap menjadi andalannya untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia baik di dalam negeri maupun pada forum internasional. Bersama Agus Salim, Sjahrir berhasil memobilisasi dukungan internasional untuk Indonesia melalui forum PBB. Media internasional menjulukinya The Smiling Diplomat.

Sejarah mulai mempersempit ruang selepas Pemilu 1955. PSI yang dia bidani tak memperoleh suara yang memadai. Soekarno menguat perannya melalui Demokrasi Terpimpin beriring pergolakan daerah. Sjahrir ditangkap tanpa diadili pada 1962-1965, hingga jatuh sakit. Manusia revolusioner itu dipaksa menelan kepahitan hidup oleh bangsa yang tiada henti dia pikirkan dan perjuangkan. Maafkan kami, Sjahrir.
Ksatrian Sendaren, 9 April 2024