Terkait Pameran Yos, Begini Surat Penyair Afnan Malay...
Written by admin
Last updated on 23 Des 2024, 17.34
Yos, Galnas, dan Menbud
Bung Fadli yang baik,
Sebelum pemerintahan Joko Widodo berakhir, pembicaraan hadirnya kementerian yang Bung pimpin saat ini antusias dilakukan dengan intensitas tinggi. Tentu yang membicarakannya penuh harap adalah para pelaku budaya: kalangan seniman panggung (musik, teater, tari) sastrawan (penyair, cerpenis, novelis), film, dan pastilah kesenian yang tumbuh dari latar budaya kita (ludruk, randai, wayang), tidak terkecuali senirupa.
Kategori yang saya sebutkan, bisa tidak pas dan tidak lengkap, tapi intinya, produk budaya kita sudah waktunya tidak lagi hanya bertahan dari gempuran ‘budaya luar’ atau ‘seniman luar’. Ketika Dirjen Kebudayaan yang diharapkan membesar jadi kementerian, saat dikawal Hilmar Farid (kawan sealmamater Bung), pendekatan inklusif yang dilakukannya cukup berhasil, jika tidak dikatakan sangat.
Tapi, justru pada persoalan akseptabilitas ada hal kecil yang perlu diperhatikan, Bung terlalu kuat ‘warna politiknya’. Salah? Pasti tidak! Hanya saja keraguan mengiringi Bung, apakah bisa bersikap inklusif: merangkul semua, baik seniman yang politis, kalau kategori ini relevan dan yang apolitis). Kekuatan Bung dalam konteks dukungan politik adalah harapan, bukan hal buruk. Karena, dengan itu Bung bisa mengawal penuh agenda-agenda kebudayaan yang bakal digulir yang bakal kita raih. Mengayomi pelaku budaya, manusia-manusia kreatif republik kita ini, merupakan ‘sekali tenteng dua tiga pulau terlampaui’: mudah belaka.
Bung Fadli,
Jangan sampai Bung jatuh pada pilihan situasional yang terjadi antara pelukis (Yos Suprapto), (Suwarno Wisetrotomo), dan jajaran di Galeri Nasional. Tidak ada kusut yang tidak selesai, kata orang-orang tua di kampung kita, juga di kampung-kampung republik dengan redaksi berbeda. Pantaskah Bung justru menjadi bagian dari kekusutan yang penyelesaian ada dalam genggaman Bung? Saya peduli dengan kapasitas Bung, apakah mungkin Bung sendiri tidak?
Pertanyaan elementer publik, setidaknya, saya yang bagian dari publik, sebagai warganegara republik ada beberapa hal.
Pertama, apakah Yos di mata kurator dan Galeri Nasional adalah perupa yang sama sekali tidak ada rekam jejak berkeseniannya! Sehingga kurator gegabah melakukan kurasi terhadap perupa yang levelnya antah berantah. Kedua, bukankah Galeri Nasional sebuah rumah seni-budaya yang tingginya tidak semua seniman berhasil memanjatnya? Ia dikelola ketat dan manajemen waktu yang tidak pula longgar. Kenapa Yos, sampai pada level itu untuk dilukai?
Tapi siapakah yang seharusnya terluka dengan pembreidelan konyol pameran Yos: ya kurator, Galeri Nasional, dan Bung! Kalau luka kurator bisa diobatinya dengan alasan-alasan kenapa ia mundur. Kalau luka Galeri Nasional cepat beralih, pegawai negeri tidak mungkin punya penyesalan dengan tameng sekadar menjalankan tugas?
Nah, surat terbuka yang saya tulis dengan rasa hormat ini sampai pada titik itu: apakah Bung akan berdalih macam-macam, beberapa macam, atau satu macam saja? Apa dalih yang Bung pertahankan? Bung tidak terluka dengan preseden buruk yang ‘dilemparkan situasi’ tidak menyenangkan ini? Atau Bung, justru merelakan diri jadi bagian benang kusut yang mudah Bung urai? Jarum ada di tangan Bung untuk memandu benang kusut pameran Yos.
Bung,
Sebagai penyair saya merespon kekuasaan yang berlangsung pada periode sebelumnya. Saya membukukan sajak-sajak tentang penguasa saat itu lewat kumpulan puisi berjudul ‘Buku Fiksi Mulyono’.
Tiap-tiap warganegara yang sadar dan punya cara ungkap dalam hal ini lukisan (Yos) dan puisi (Afnan), pastilah tergerak merespon kondisi tanah airnya. Bung sendiri dulu sangat tajam melakukan ‘tusukan-tusukan’ kepada yang sudah dua periode memimpin republik!
Bayangkan, kritik terhadap yang sudah berkuasa saja dibungkam: apa perlunya? Kalau kevulagaran yang dianggap pokok dalam soal pameran ini, saya bertanya: bukankah itu sekadar memedihkan mata yang melihat (dan pasti tidak semua mata penonton pameran jadi sakit karenanya). Kurang vulgar apa kekuasaan yang tuli diteriaki para guru besar serepublik, termasuk yang terdepan dari kampung Bung dan kampus saya.
Kurang hormat apa kita dengan figur utama yang dilukis Yos: kita relakan melakukan pembiaran anak-menantunya berkuasa, kita relakan konstitusi kita dirusak. Saya ingat yang lantang ketika suasana republik kacau-balau, hanya Megawati Soekarnoputri yang memperingatkan, “Inkonstitusional.”
Bung Fadli,
ia lukis tanah airnya
ia lukis tanah airnya
ia lukis tanah airnya
ia lukis tanah airnya
ia melukis penguasa culas
tinggi gunung-gunung, meliuk
Jogja, 20/Des-24
Bung Fadli yang baik, terima kasih dan salam