Tradisi Ujung: Kehangatan Kohesi Sosial di Hari Lebaran...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.56

Oleh: Wahjudi Djaja

.

Senja hujan selepas Magrib, datang tiga orang mewakili pengurus takmir Masjid Baitul Jannah, dusun Gamping, Gunung Gajah, Bayat, Klaten. Mereka adalah Tukisman, Sukisno dan Tukimin. Secara sosilogis mereka lahir dan tumbuh dalam budaya agraris meski Bayat dikenal sebagai daerah tandus. Pemahaman agama (Islam) mereka berbasis Jawa. Lama dusun ini tak memiliki masjid, belajar mengaji Alquran hanya dilakukan di rumah tokoh, itu pun dengan ejaan yang njawani. Tak aneh jika bacaan Surat Al Kautsar,

Namun soal etika, tata krama,

Tetangga menghampiri Ibu seusai salat Ied (Foto: Wahjudi Djaja)

Setelah saya temani berbagi cerita tentang masa lalu atau menjawab beberapa pertanyaan mereka seputar kehidupan di Sleman, Ibu (Hj. Sundari) datang di ruang tamu dengan bantuan penyangga. Maklum, usia Ibu sudah relatif

Tiap lebaran warga datang ke rumah dari berbagai penjuru. Simbah dulu demang, lalu lurah, dan rumah adalah kademangan atau kantor kalurahan. Bapak (alm) dan Ibu hanya menyambung silaturahmi sampai sekarang. Itu sebuah kehormatan bagi kami.

Ujung pada sosok yang belum terlalu sepuh (Foto: Wahjudi Djaja)

Terkait tradisi ujung, tentu telah berakar lama dalam kehidupan kami. Dua pengertian bisa dicatat dari tradisi itu.

, ujung bisa merujuk pada pertemuan dua tangan antara yang

.

Tradisi ujung adalah prosesi paling sakral dalam konteks lebaran. Orang belum bisa disebut

Rombongan anak-anak ujung dipimpin yang tertua (Foto: Wahjudi Djaja)

Zaman bergerak, generasi pun berganti. Semakin langka masyarakat yang masih bertahan dengan tradisi ujung dalam format dan tatacara sesuai tradisi. Orang semakin praktis dan pragmatis dengan alasan kesibukan. Cukup dengan bersalam-salaman di lapangan setelah salat atau berkumpul di masjid lalu bersalam-salaman melingkar dari ujung ke ujung. Bahkan, semakin dalam teknologi memasuki kehidupan masyarakat, format permohonan maaf pun semakin simpel. Kirim

Saat teknologi mengusai hampir semua sisi kehidupan, kohesi sosial semakin renggang dan tak hangat lagi. Lebaran bukan lagi arena atau momentum untuk me-

Ksatrian Sendaren, 10 April 2024