Umbu Landu Paranggi, Malioboro dan Jembatan Peradaban...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.56

Oleh: Wahjudi Djaja

6 April 2024 tepat tiga tahun kepergian penyair bertangan dingin Umbu Landu Paranggi. Alumni Fisipol UGM yang–karena suratan sejarah–memperoleh sebutan sebagai “Presiden Malioboro” karena peranannya dalam mengelola Persada Studi Klub yang dia dirikan 5 Maret 1969. Bukan kebetulan jika Umbu ditempatkan pada konteks kesejarahan jalan Malioboro sebagai detak kehidupan susastranya bersama komunitas yang dia asuh.

Lebih dari sebuah jalan, Malioboro adalah saksi sekaligus jembatan penghubung yang fenomenal. Semua tamu Kesultanan Yogyakarta harus melalui jalan itu. Juga tamu-tamu negara yang berkunjung ke Gedung Agung tempat Presiden Soekarno tinggal. Dalam perkembangannya jalan itu menjadi penghubung antara kutub utara yang merujuk UGM sebagai simbol kaum intelektual dan kutub selatan yang mewakili ISI sebagai rerepresentasikan kalangan seni. Malioboro kemudian tak ubah menjadi panggung ekspresi terpanjang dalam sejarah.

Terbayang, jalan Malioboro yang panjangnya 2 km itu di topang oleh dua generator peradaban. Di sisi utara ada PSK bersama Mingguan Pelopor Yogya dan berpuluh penyair, sedang di ujung selatan ada Senisono yang menjadi panggung ekpresi dan aprsiasi. Inilah yang antara lain disebut Modal Yogyakarta, tulis Romo Mangun di Bernas (YB Mangunwijaya, “Memoar Malioboro”, 17/5/1991), yang penting tidak terdapat pada internasionalisasi wajud dan citranya.

Di lingkaran sastra PSK ada nama-nama Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Soeparno S. Adhy, Mugiyono Gito Warsono, dan M. Ipan Sugiyanto Sugito dengan Umbu sebagai matahari atau energi utama. Barisan berikutnya tercatat para penyair seperti Linus Suryadi Ag, Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Joko S. Passandaran, dan Arwan Tuti Artha. Menarik kesaksian Cak Nun (Kadipiro, 28/5/2015) tentang siapa Umbu yang pernah jadi gurunya.

Penulis dan Cak Nun

Umbu memang sosok yang menyukai peran di belakang layar. Dia seperti bertugas membuka selubung yang menutupi potensi susastra pada banyak anak muda. Tak banyak bicara, bahkan cenderung misterius, tetapi keberadaannya nyata dirasakan. Anak muda yang kemudian merasa menjadi muridnya hanya dipaksa melihat bagaimana Umbu menjalani laku untuk kemudian merenungkan dan merangkai menjadi anyaman kata dan makna.

Dalam bahasa lain Tegoeh Ranusastra melukiskan Umbu dalam bait puitis:

Terkait dunia kepenyairan pasca Umbu, banyak diulas dan menjadi perbincangan. Termasuk ada yang menyebut sebagai krisis. Benarkah? Ahmadun Y Herfanda (Republika, 17/1/1994) menulis, melahirkan penyair besar ternyata tidak gampang:

Dalam pengamatan Bakdi Sumanto (Masa Kini 3/3/1984) sebetulnya dunia kepenyairan Yogyakarta pasca Umbu masih potensial dan prospektif:

Kita bisa berbeda pendapat dengan Bakdi dalam melihat posisi dan peran Umbu dalam merangsang munculnya penyair besar. Dalam sejarah ada Teori Orang Besar (Kuntowijoyo, 2005) dinamika sejarah ditentukan oleh keberadaan orang besar. Dalam konteks Umbu, berkat kharisma, pengaruh, dan kecerdasannya dalam meramu momentum dengan manusia melahirkan penyair yang kemudian mewarnai cakrawala sastra. Dia ditopang oleh iklim budaya berbasis kesejarahan yang menaungi Malioboro. Terkait PSK bisa dibaca buku Saeful Anwar Persada Studi Klub Dalam Arena Sastra Indonesia.

Umbu, Waluya Dimas dkk (Dok: Waluya Dimas)

Dalam perspektif yang berbeda Ashadi Siregar dalam “Mentalitas Pop Menjangkiti Para Penyair Kita” (Masa Kini, 3/31984) menilai, penyair-penyair kita sekarang cenderung menulis puisi untuk ditonton.

Menanggapi perbincangan itu, Ragil Suwarna Pragolopati (Minggu Pagi, Magnetisme Sastra: Kuras Ilmunya dan Hormati Orangnya, 15/7/1984) mengatakan sebagaimana tak dipercayai Cak Nun dan Linus–dua murid Umbu–tak ada krisis kepenyairan di Yogyakarta.

Apapun, Umbu Landu Paranggi adalah sosok fenomenal dalam dunia sastra. Rela menanggalkan kebangsawanan, menapaki laku pengembaraan, lalu menghilang dan muncul kembali dalam dimensi kehidupan yang lain. Dalam konteks keyogyakartaan, Umbu adalah salah satu pengungkit bangkitnya ruh budaya yang melegenda. Umbu adalah “Jembatan Peradaban”. Saat 1975 dia keluar dari Yogyakarta, tunas yang dia tanam mulai bersemi, tumbuh dan beranak pinak. Pasca Umbu, era 1980-1990 di Yogyakarta telah meriah dengan hadirnya penyair dalam beragam warna dan karya.

Terima kasih atas kehadiranmu, Umbu. Sejarah memang bergerak maju, dan di ujung sana dirimu telah memasang patok dengan amat kukuh. Semoga damai bahagia di keabadian, aamiin

(Melodia, Manifest, Yogyakarta, 1968)

Ksatrian Sendaren, 6 April 2024