Yudhistira ANM Massardi, Setelah Transformasi Ruhani...

admin profile

Written by admin

Last updated on 10 Des 2025, 15.56

Oleh: Wahjudi Djaja

Dunia sastra Indonesia kembali harus membaca berita duka. Sastrawan Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi dipanggil kembali Yang Maha Kuasa pada Selasa (2/4/2024) pukul 21.12 WIB di RSUD Bekasi. Sosok yang lahir di Subang Jawa Barat (28 Februari 1954) ini dikenal sebagai jurnalis, penyair dan penulis. Pernah tinggal di Yogyakarta hingga menamatkan SMP dan SMA Taman Siswa, Yudhis kemudian mendedikasikan hidupnya di Jakarta.

Latar jurnalistik (

Dalam bahasa Kurniawan Djunaedi, kemunculan Yudhis memberi harapan setidaknya dalam dua hal. Pertama, sebagai penyair Yudhis telah membuktikan bahwa dirinya punya pemerhati mengingat tempat pertunjukan yang belum populer. Kedua, ia berhasil memberi bobot sebagai pembaca sajak yang diperhitungkan. Untuk menjadi pembaca yang baik, dia tak perlu jungkir balik segala (

Dalam “Sajak Sikat Gigi”, Yudhis secara cair cenderung jenaka menulis:

Enteng tetapi masuk dalam imaji keseharian para pembacanya. Tak perlu dibebani dengan rentetan diksi yang perlu dua tiga kali baca untuk bisa mencernanya, Yudhis menutup sajaknya dengan penyadaran tentang hidup yang–sebaiknya–penuh kesadaran. Sesuatu yang berlebihan sering berujung pada ketaknormalan atau anomali. Dan dalam hidup, itu semaksimal mungkin dia hindari.

Hanya berteman di

Bergerak dari puisi sekedar penghangat komunikasi sosial, Yudhis makin ke sini juga menawarkan kontemplasi, penyadaran dan kanalisasi atas masalah dan tema-tema besar dalam kehidupan. Rangkaian puisinya di

Dalam “Kudengar Detik Waktu”, Yudhis mengajak pembaca untuk memberi makna dan tafsir atas cinta dalam lipatan waktu:

Manusia sering terjebak dalam rutinitas dan keseharian. Energi dihabiskan, kadang untuk sesuatu yang maya, fana dan sementara. Dia mengingatkan kita untuk memaknai Cinta sebelum semuanya terlambat menjadi sejarah. Hidup adalah mengalir ke masa depan, tak bisa ditarik mundur ke belakang. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebelum malam benar-benar tiba dengan gulita.

Dan saat waktu benar-benar mendekat, dengan indah dia rangkai kata dalam jubah penuh kehambaan yang luar biasa. Dalam sajak “Akhirnya Kita”, Yudhis mengalami transformasi imani yang sungguh mendalam, khusuk dan mencerahkan ruhani:

Dia membaca waktu. Dia memformulasikan ajal dengan sesuatu yang alamiah, nyata dan–karenanya–harus disambut dengan suka cita. Tak ada kesedihan.Tak ada ketakutan, apalagi kepengecutan dalam konteks keimanan. Apakah dia sadar dan merasa bahwa ajal telah mendekat? Wallahualam. Namun, kesadaran akan kesementaraan hidup dan perlunya menyadari hakikat hidup–dengan Tuhan sebagai teman sejati–terlihat jelas pada sajak “Tuhan: Air Mata”.

(

Bilapun tak merasakan dan menyadari ajal yang mendekat, Yudhis nampaknya memahami sepenuhnya perjalanan hidup yang pasti akan sampai di ujung. Dalam sajak “Akhirnya Kita…” dia dengan cerdas membahasakan perjalanan itu dalam metafor yang sempurna:

(

Gegap gempita politik yang menegasikan etika dan moral nampaknya cukup menggelisahkannya. Yudhis tak berpolitik praktis, tetapi sebagai hamba budaya dia paham ke arah mana perjalanan bangsa ini bergerak dan digerakkan. Dalam sajak “Selamatkan Indonesia!” dia memberikan pesan menukik yang jauh menghunjam dalam kesadaran kebangsaan kita. Sajak ini memiliki pesan kesejarahan lintas zaman sebagaimana sering dilakukan oleh WS Rendra.

(

Sebuah perjalanan hidup yang indah, sarat kearifan dan kaya pelajaran. Yudhis telah menyelesaikan tugas peradabannya. Sebagai pribadi dia telah mengalami transformasi ruhani dan imani. Sebagai warga negara dia telah memprasastikan pesan penyadaran untuk dibaca oleh anak-anak zaman. Dan kita doakan, Yudhis kembali dengan penuh keikhlasan, kesadaran, serta penerimaan.

Selamat jalan Bang, damai bahagialah di keabadian.

Ksatrian Sendaren, 2 April 2024